(Repost) Jelita di mata Jelata

Alexia Raisha Tumangga adalah sebuah konsep.

Menggambarkan sebuah lukisan, yang rampung di awal hari. Guratannya tegas, melintas tidak berbatas. Sekilas terlihat indah dan instan, namun itulah jebakannya. Alexia Raisha Tumangga ingin sekali menunjukkan dunia, bahwa dia adalah sebuah buku tebal dengan lembaran yang tipis.

Alexia Raisha Tumangga membuka matanya, tanpa bantuan siapa-siapa. Dia menjaring kesalahan dengan uluran tangan dirinya sendiri. Bahwasanya menjadi egois dan tidak mau tahu, itu sudah menjadi resiko. Dia tumbuh jauh dengan bertahan sendiri.

Kamu mungkin menemukannya saat berkaca, atau saat menyaksikan mereka yang meminta-minta. Alexia Raisha Tumangga mungkin menyublim di irama hidup dan terus berdegup.

Dia sering bersembunyi di balik perangainya yang kokoh, berlapis-lapis dan penuh intrik. Sebisa mungkin, kamu tidak menemukannya sedang bersedih atau sedang terlalu senang. Dia hanya ingin kamu tahu, apa yang ingin ditunjukkannya.

Keindahannya datang saat malam lupa giliran. Terik yang mengikis-ngikis. Oh tolong longgarkan kerahmu, agar kamu tahu bilamana aku mau bersamamu.

Alexia Raisha Tumangga tidak pernah mau tahu. Dia hanya mencintai manusia-manusia yang mau memakluminya. Mungkin Alexia Raisha Tumangga terlalu menuhankan memori, dan sedikit menganak-tirikan apa yang seharusnya terjadi. Atau bahkan dia hanya mencintai dirinya sendiri, sehingga tidak pernah menyempatkan diri untuk sedikit mencari refleksi atas nurani.

Alexia Raisha Tumangga, selama ini hanya membayar sakit hatinya. Di pelupuk nadinya, dia berpesta membalas kekalahannya di perang tanpa dasawarsa. Bertumbangan banyak korban, tanpa sadar, bahwa dirinya sendiri lah yang harus dikalahkannya.

Alexia Raisha Tumangga tidak pernah mengira, aku mengumpulkannya, di antara bebutir pasir yang pernah melipir. Berulang kali memastikannya, seperti pelepah serapah yang bernyanyi dengan mudah. Alexia Raisha Tumangga tidak bodoh, untuk berpura-pura tidak bersuara.

Aku sering bermimpi bersamanya. sesekali mengigau dan tertawa lepas bersama. Aku sering bertanya bersamanya, mengira-ngira dan berlagak meramal di ujung sana.

Dia itu jelita.

Setidaknya, di depan kedua mataku yang terlanjur jelata.

(Taken from my old blog, posted on August 2nd 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s