Titik Nol

titik-nol

Apa yang bisa Anda harapkan dari buku rilisan lokal bertema travel? Rasanya lebih dari sepuluh kali saya mengakhiri hari tertunduk lemas menemukan rak buku bertema travel di toko buku lokal dikangkangi oleh judul-judul yang tak jauh dari “Panduan Hemat berwisata ke ___”, atau “Lima Juta Keliling ___”. Kondisi lain juga kurang menghibur, judul-judul sok inovatif menggandeng penggalan “–packer” berserakan. Lightpacker, Backpacker, Flashpacker, Hijabpacker, dst. Berharap personalisasi instan bisa mendulang perhatian khalayak.

Saya tidak terbiasa menulis resensi di dunia literasi, tapi ada magnet-magnet luar biasa kuat yang membiarkan saya memapar tentang bagaimana Titik Nol membuka pintu-pintu rahasia di dalam benak dan jiwa.

Satu hal paling megah yang dimiliki Agustinus Wibowo dalam penulisan Titik Nol adalah sudut pandang. Hakikat travel writing yang ideal adalah menghadirkan rasa yang paling nyata tentang sebuah tempat atau peristiwa, menjembatani pembaca dengan  fenomena dan memori yang tersisa di dalam kepala. Di saat yang sama, travel writing juga memberikan asupan gizi yang berbanding lurus dengan bidikan historis, geografis atau bahkan antropologis.

Dengan buku ini Agustinus berhasil menggaris irisan panjang yang entah kenapa bisa membuat kita terpental nun jauh ke negara-negara asing, namun juga membuat kita bersemayam di dalam relung diri yang terdalam. Ia mengiris budaya, agama, identitas, ras dan (ya) cinta. Hal-hal paling personal yang dimiliki manusia. Agus membuat kita pergi dan pulang, di saat yang sama.

Dalam kisahnya, Agus menyelam ke dalam kehidupan masyarakat lokal dengan bersahaja. Jauh dari pretensi, Ia mempelajari bahasa, kebiasaan dan norma-norma yang justru bagi saya jauh lebih berharga dari informasi-informasi turisme yang biasa tersuguh di dunia maya. Agus berulang kali menegaskan, bahwa perjalanan adalah tentang manusia. Tentang hidup dan lika-likunya.

Titik Nol merampas bulir bulir terkecil yang ada di dalam pikiran saya selama ini. Tentang perjalanan. Tentang keluarga. Tentang pilihan. Tentang mimpi, ambisi dan cita-cita.

Perlu dipatri di dalam kepala bahwa latar tempat dan paparan yang ada di buku ini berada jauh di planet yang berbeda dengan mayoritas buku travel rilisan tanah air. Saat kebanyakan penulis berusaha untuk mengedepankan destinasi prestisius, kenyamanan, kemewahan, tips dan trik, lebih dari ¾ buku ini bersuara tentang kesengsaraan, kesedihan, bencana alam, nasib buruk dan momen-momen pedih.

Dari rentetan peristiwa “celaka” itulah lahir keindahan berbalur rasa syukur. Lagi-lagi tentang sudut pandang, yang menurut saya sangat istimewa. Hal ini membuat Titik Nol hidup dan berdegup. Agustinus memiliki daya bentang hebat dalam diksi, dikawal dengan pendeskripsian yang teliti. Buku ini tidak congkak mengangkat dagu dan memberi tahu, tapi Ia berkeluh kesah, gelisah dan terus bertanya. Terus terang, hal ini yang membuat saya berulang kali tergugah.

Bukan, buku ini bukan tentang berpesta di Maladewa, shopping murah di Hong Kong, romantisnya Eiffel atau indahnya London Eye. Buku ini tentang dirampok, diancam, dilecehkan dan tentang kehilangan.

Bicara tentang kehilangan, hal lain yang patut dicermati adalah bagaimana Agus merajut latar waktu di Titik Nol. Dua latar waktu yang berbeda dan sama pentingnya berkelindan satu sama lain, saling melengkapi dan melebur di penghujung cerita, bahkan dengan dua ujung tombak yang sangat bertentangan; tentang menemukan dan kehilangan.

Walaupun tidak akrab, saya masih ingat perjumpaan dengan Agustinus Wibowo. Medio 2011, saya masih bekerja di redaksi National Geographic Indonesia. Saya dan rekan redaksi diundang ke ruang rapat, di dalam ada Agus sedang berbincang dan mendiskusikan foto-foto perjalanannya dengan Pemimpin Redaksi kami. Ia lalu memasang sebuah slideshow foto dan menjelaskan foto-foto tersebut. Tak beberapa lama kemudian, artikel dan fotonya pun didaulat jadi halaman sampul National Geographic Traveler. Kami tidak pernah mengobrol panjang, dan mungkin Ia juga sudah lupa.

Bagaimanapun, Titik Nol meninggalkan sebongkah impresi di dalam pikiran saya. Dan nampaknya impresi itu akan menetap secara permanen, mencari celah di antara otak saya untuk terus masuk dan merasuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s