The Great Escape

An essay I made about UK music industry, published in Rolling Stone Indonesia, photos published in BBC Indonesia

IMG_9631 copy

Selama tiga hari setiap tahunnya, Brighton, Inggris, disulap jadi kota musisi, disesaki lebih dari 400 band dari seluruh penjuru dunia. British Council mengutus para pegiat kancah musik lokal untuk “studi banding” ke The Great Escape Festival, Inggris. Mereka pulang dengan mata terbuka dan sebuah misi baru.

Sore itu, agak sulit untuk melangkah dengan kecepatan normal di sekitar cultural center di Brighton. Pasalnya, selain udara dingin dan hembusan angin pesisir selatan Inggris yang menantang, terlalu banyak godaan tersebar di sudut-sudut kota. Godaan seperti arsitektur cantik, butik-butik unik atau toko rekaman tua masih bisa saya hiraukan, tapi musisi-musisi yang tanpa direncanakan beraksi di pinggir jalan terlalu menarik untuk dilewati.

Saya baru saja tiba di Brighton dari London dan berjalan menuju Komedia, salah satu venue yang tersebar dari total 31 titik di mana The Great Escape Festival (TGE) berlangsung. Di telinga masyarakat internasional, nama festival ini mungkin tak seharum Glastonbury, Download atau Reading, tapi Brighton sudah seharusnya bangga karena berhasil mengumpulkan – tidak hanya ratusan band baru dari seluruh dunia – namun juga para dalang belakang layar dan figur kunci industri musik. Saat meninjau susunan acara dan jejeran band yang akan tampil, nama “The Great Escape” jadi semakin relevan dengan realita.

IMG_9494 copy

Di samping penampilan musik, ada seminar dan diskusi dengan belasan topik seksi seputar musik; royalti musik digital, manajemen penggemar, potensi festival musik dan lain sebagainya. Semuanya dengan armada pembicara dan pelaku bisnis terdepan di bidangnya.

Tujuan awal memilih Komedia sebagai lokasi pertama yang saya sambangi adalah untuk bertemu dua kawan yang sedang berada di sana: Robin Malau dan Indra Ameng. Keduanya punya peran yang cukup esensial di kancah musik lokal Tanah Air. Setelah bersinar bersama band pionir Puppen, Robin Malau pensiun dari panggung dan mendirikan Musikator, perusahaan yang memperjuangkan dan menjembatani musisi Tanah Air di belantara digital.

Sedangkan Indra Ameng merupakan sosok aristokrat seni Ibukota, manajer White Shoes and The Couples Company, aktivis kolektif seni Ruang Rupa dan setengah dari The Secret Agents, duo pelaksana Superbad!, acara musik andalan para penampil baru.

Robin dan Ameng dikirim sebagai delegasi dari Indonesia oleh British Council. Robin merupakan pemenang Young Creative Entrepreneurs (YCE), program usungan British Council yang memberikan lampu sorot kepada kaum muda dengan kreativitas di luar ambang batas.

Program YCE Indonesia punya daftar jebolan yang bergengsi, termasuk pengusaha kreatif Yoris Sebastian dan walikota Bandung Ridwan Kamil. “Kami ingin para delegasi bisa mempelajari bagaimana industri musik bisa menjadi sustainable,” jelas Kemi Harahap, Project Manager Arts & Creative Economy British Council Indonesia.

DSCN0871 copy

Seminar bertajuk “Engaging The Fan” baru saja rampung di Komedia saat saya tiba. Wajah-wajah serius dengan dahi mengkerut keluar dari ruang seminar, dan saya menemukan Robin duduk berhadapan dengan sepiring Hotdog di atas meja. Tak lama kemudian Ameng tiba, dan kami mulai bertukar obrolan. Seharusnya ada satu orang lain yang duduk bersama kami sore itu. Ferry Dermawan dari G Production/Djakarta Artmosphere juga dijadwalkan terbang ke Brighton untuk menghadiri TGE, namun terpaksa alpa karena permasalahan visa. Kesal dan gemas, hal itu membuka topik pembicaraan kami.

Strategi ekspor musisi lokal

Kabar batalnya sebuah band dari Indonesia berangkat untuk tampil di luar negeri bukan lagi hal baru. Ironisnya, hampir semua kasus yang terjadi disebabkan masalah sepele yang berkaitan dengan birokrasi. Kasus terakhir melanda Sigmun yang diundang oleh South by South West (SXSW) di Austin Texas, Amerika Serikat beberapa bulan terakhir. Kesalahan prosedural mengakibatkan hilangnya kesempatan mereka untuk diapresiasi oleh audiens internasional.

“Kita (Indonesia) tidak punya posisi tawar yang tinggi, dan cenderung diremehkan,” ujar Ameng. “Kesempatan emas untuk mempromosikan musik lokal ke luar negeri jadi pupus cuma karena birokrasi,” lanjutnya. Ameng punya jam terbang yang tinggi mengekspor White Shoes and The Couples Company untuk tampil di banyak panggung berskala internasional.

DSCN0994 copy

Miskinnya informasi dan kepedulian terhadap sistem dari pihak musisi juga Robin akui menjadi salah satu masalah yang mengakar. “Terkadang bandnya juga yang tidak mau tahu. Birokrasi macam ini sangat kompleks dan banyak detail yang harus dipenuhi. Orang-orang yang mendaftarkan diri untuk visa harus sangat proaktif, dan terus mengecek apakah semua ketentuan sudah dipenuhi” jelasnya.

Selain tahap prosedural yang harus dipenuhi dengan teliti, dukungan dari pihak-pihak berwenang juga terkadang bisa memberi kelonggaran terhadap proses ketat lika-liku visa. “Yang gue takut, karena masalah ini terus-terusan terjadi, band-band jadi pada kapok,” sambung Robin.

Batal karena problem visa menjadi miris karena band-band jadi terkesan “kalah sebelum berperang”, dan hal ini membuktikan lemahnya posisi tawar di hadapan birokrasi. Band-band Indonesia yang terbang ke luar negeri untuk tampil sudah seyogyanya dilihat sebagai aset kultural dan mendapatkan dukungan besar dari pemerintah. Dan ya, agak sulit bila hanya mengandalkan pemerintah di dalam permasalahan ini.

DSCN1099 copy

Ada jurang besar yang membuat band-band Indonesia terperosok ke lubang yang sama setiap kali ingin tampil di luar negeri. Menanggapi masalah tersebut, Robin dan Ameng sepakat untuk membentuk sebuah agensi yang khusus membantu band-band lokal yang ingin atau sudah mendapatkan kesempatan untuk tampil di luar Indonesia. “Gue bisa fokus lebih ke band-band rock, dan Ameng bisa pegang yang lebih pop,” papar Robin.

Bagi Robin dan Ameng yang sudah terbiasa dengan budaya musik di Indonesia, mendatangi festival seperti The Great Escape sudah tentu jadi anugerah, tapi juga bisa jadi kutukan dalam waktu yang bersamaan. “Banyak sekali hal yang membuka mata, tapi juga bikin kita prihatin terhadap keadaan di Indonesia,” kata Robin sambil terbahak. Sedangkan Ameng mengancungi jempol terhadap keselarasan antara musik dan bisnis yang ada di TGE. “Isinya tidak hanya pebisnis, tapi ada aksi band yang keren. Festival-festival serupa seperti MIDEM, terlalu fokus kepada sisi bisnisnya saja,” sambung Ameng.

Memang panjang dan lebar bila ingin mengupas dan membandingkan geliat industri musik Inggris dan Indonesia. Tapi tentunya permasalahan tidak hanya berhenti di dalam masalah birokrasi, namun juga membentur ke ranah akses, pola pikir dan infrastruktur.

Selama TGE berlangsung, Brighton dilanda banjir selebaran dan poster. Bayangkan Anda kelaparan, duduk di restoran prasmanan dengan pilihan lebih dari 400 menu makanan, gratis. Apa yang harus dilahap pertama? Sambil kebingungan mengamati gerak-gerik partisipan, saya menyadari satu pola yang cukup mencolok. Sedikit sekali band yang maju dan bertempur di ajang ini, tanpa dipayungi lembaga/kolektif besar yang menaungi mereka.

DSCN0930 copy

Ambil contoh Canadian Blast yang dimotori oleh CIMA (Canadian Independent Music Association). Atau Sounds Australia, yang mengantongi 20 band siap tempur di TGE. Ada lagi German Haus, yang memboyong band-band asal Jerman untuk tampil di TGE. “Gue lihat banyak banget perwakilan dari negara-negara ini, lalu gue berpikir, kenapa nggak ada nama Indonesia,” jelas Robin.

Upaya-upaya Australia, Kanada atau Jerman untuk mengoper lambung para musisi mereka ke Brighton tentu dibekali dengan fondasi yang kokoh. Di bagian bawah poster dan selebaran Sounds Australia, tertera logo New South Wales Trade & Investment, NSW Government dan Queensland Government. Begitu juga dengan Canadian Blast, ada nama Ontario Media Development dan Canada Tourism Organisation.

Salah satu pihak yang menyita perhatian publik paling besar sepanjang TGE adalah Finlandia. Didaulat mendapatkan perhatian khusus dari pihak TGE tahun ini, Finlandia mengirim sejumlah band-band anyar – termasuk penyanyi/pencipta lagu baru favorit saya Mirel Wagner – dan melakukan promosi jor-joran, hingga memberikan sebuah vinil cuma-cuma berisi kompilasi band Finlandia yang tampil di TGE kepada para delegasi. Music Finland, asosiasi yang khusus mempromosikan band-band Finlandia juga bertengger jadi sponsor di TGE.

Pola ini memberikan petunjuk jelas kepada Indonesia, cara terbaik untuk menjembatani musik lokal kepada masyarakat dunia. Mengayom, berkumpul di bawah payung yang lebih besar dengan visi kolektif yang selaras bisa jadi lebih ampuh ketimbang berperang sendirian. Berkaca kepada subyek lain, konsep ini mungkin sudah diaplikasikan dalam bidang-bidang lain seperti fashion dan seni.

Namun melihat potensi, dinamika dan kualitas musik lokal Tanah Air, bisa dipastikan upaya ini punya daya ledak yang besar. Keberadaan pihak eksternal menjadi poin penting untuk menciptakan dukungan yang nyata. Potensi musik lokal harus dikembangkan dengan bobot ekonomi, sehingga bisa ditangani dengan pemahaman yang lebih luas.

Mengadu budaya unduh

Selama tiga hari berada di Brighton, tidak sulit meresapi atmosfer unik yang ada selama TGE. Pusaran energi acara ini tidak hanya berpusat kepada apa yang terjadi hari ini, namun juga apa yang akan terjadi di masa depan. Mengambil beberapa lokasi unik seperti gereja dan basement hotel, band-band yang baru saja matang diberikan panggung untuk unjuk gigi. Saya lumayan terkejut karena beberapa dari nama-nama baru favorit saya seperti Paul Thomas Saunders (Inggris), Gambles (Amerika Serikat), Oy (Swiss), Mirel Wagner (Finlandia) dan M (Denmark) mendapatkan atensi yang merata dari penonton, bahkan pada panggung-panggung dengan kapasitas yang terbatas.

Saya kerap membayangkan kawasan Kemang atau Sabang di Jakarta disulap menyerupai SXSW atau TGE. Festival Rrrecfest pernah mengadopsi konsep yang serupa, mengambil tempat di sekitar Cikini, Jakarta Pusat. “Di Indonesia, apa-apa harus dengan panggung besar, festival besar. Sponsor enggan bekerja sama bila harus menyokong acara kecil, karena dianggap tak prestis. Ada pola pikir yang salah,” papar Robin.

DSCN1053 copy

Bicara pola pikir, salah satu topik hangat yang kerap dibicarakan di dalam seminar-seminar di TGE adalah proses konsumsi musik digital, dan berbagai dinamikanya. “Selama ini gue pikir iTunes jadi ‘anak kesayangan’ di industri musik digital, ternyata bukan mereka. Sejak awal TGE berlangsung, orang-orang banyak membicarakan tentang Spotify. Ini hal yang sejak lama gue sadari, bahwa kodrat konsumsi musik digital itu bukanlah unduhan, namun teknologi streaming,” jelas Robin.

Hal itu menjadi semakin jelas ketika kebanyakan pelaku industri berfokus kepada teknologi streaming. “Masalah akses internet seharusnya tidak usah dirisaukan lagi. Gue sempat coba streaming spotify dari perjalanan Jakarta-Bandung menggunakan akses internet dari provider lokal aman-aman saja tuh. Tinggal ubah kualitas filenya jadi rendah saja,” kata Robin.

Dalam wadah musik digital di Indonesia, perbincangan tentang pembajakan adalah sumur yang tak pernah kekeringan. Diskusi dan argumentasi sepanjang TGE berujung kepada kesimpulan bahwa orang-orang di luar Indonesia juga membajak dan mengunduh secara ilegal, namun di saat yang bersamaan para pencetus juga menerapkan sistem yang lebih mudah diakses dan lebih adil kepada semua orang.

“Kita hanya sibuk bicara tentang sisi negatifnya, sedangkan orang-orang di sini (Inggris) sibuk bicara tentang bagaimana menanggulanginya,” papar Robin.

DSCN1040 copy

Pergi, serap lalu kembali

Namun, sudah bisa dipastikan tidak semua sistem yang ampuh diaplikasikan di Inggris bisa langsung dilakukan di Indonesia. Terlalu banyak gesekan budaya, tidak selamanya rumus yang efektif bisa berhasil ketika dipraktikkan kepada masyarakat Indonesia yang dinamis.

“Salah satu cara terbaik adalah membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi orang Indonesia untuk bisa pergi ke luar dan belajar langsung di lapangan, lalu kembali dan mengaplikasikan gagasan yang mereka dapatkan dengan konsep berpikir ala orang Indonesia,” kata Robin. “Belum tentu pakar yang jauh-jauh terbang ke Indonesia mengerti betul keadaan pasar dan perilaku orang-orang Indonesia,” pungkasnya.

Menurutnya pengalaman membandingkan langsung situasi yang ada di luar Indonesia bisa sangat menginspirasi. Hal itu dia lakukan bersama Burgerkill pada 2013. Tahun lalu, raksasa metal Kota Kembang Burgerkill berangkat ke Inggris untuk menerima penghargaan Golden Gods 2013 dalam kategori Metal as Fuck.

Dalam kesempatan yang sama, mereka juga menonton Download Festival di London. “Walaupun terkesan sederhana, tapi perjalanan mereka sangat berpengaruh terhadap percaya diri dan pemahaman. Dan hal ini tidak cuma bisa dilakukan oleh grup band saja, tapi juga para wirausahawan dan pegiat musik di Indonesia,” sambung Robin.

Masalah ini juga diam-diam mencuat ke permukaan. Di Indonesia, semua orang – atau mungkin kebanyakan – ingin jadi bintang rock, tampil di atas panggung, muncul di sampul majalah dan mendapatkan ekspos dari khalayak. Kancah musik lokal kekurangan pelaksana belakang panggung, yang mungkin saja perannya jadi lebih penting daripada grup musik. Indonesia butuh lebih banyak arsitek dan inisiator musik, agar bisa membuat sistem yang simpel tapi efektif.

DSCN1072 copy

“Di sini, walaupun skalanya tak semuanya besar, namun hampir semua elemen berfungsi dengan baik. Tidak hanya band-band dengan kualitas bagus, tapi mereka juga punya venue yang mumpuni, kualitas audio bagus, manajemen yang rapi, agensi yang kooperatif, dan investor yang suportif,” jelas Robin berapi-api.

Permasalahan yang ada di Indonesia sangat kompleks. Inovasi dan regulasi yang kita miliki sekarang masih terpisah banyak sekali problem mendasar. Namun dari semua aspek substansial yang menggerakkan roda industri, musik adalah tujuan awal dan destinasi akhir.

“Hal terpenting dari perjalanan panjang industri musik ini adalah semuanya bermula dari beberapa orang anak muda yang memutuskan untuk membentuk band, menulis lagu dan berlatih di dalam sebuah studio,” tutup Robin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s