Jadi Miskin di Jakarta

8432388507_d0c9ec6b0b_z

Pic: prassprasetio via Flickr Creative Commons Search

Bukan rahasia: Ahok tak suka kompromi.

Belakangan ini dia kembali “berulah”. Pedagang Kaki Lima – para oportunis yang menyesaki Jakarta mengadu nasib berjualan sekadarnya juga tak disisakan toleransi. Dia menyisir, mulai dari Monas, bangunan ikon Ibukota. Seperti yang sudah terjadi kemarin-kemarin: kebijakan ini menuai kontroversi. Kiri-kanan ormas kagetan riuh melancarkan protes, menyalak dan kerap menolak.

Dipandang secara instan, langkah Ahok terkesan tak bijaksana. Menyingkirkan “rakyat miskin”, tanpa memberikan kompensasi apa-apa. Wajar kalau banyak yang tak terima, lalu langsung mengasosiasikan Ahok musuh rakyat jelata. Lebih bikin telinga panas, kalau 20 ribu PKL Monas yang tersebar di area seluas 82 hektar ini tidak dilibas, menurutnya Monas bisa berakhir jadi sarang prostitusi. Kurang heboh apa, Gubernur yang satu ini.

Setelah didalami lagi, ternyata keputusan Ahok ini tak “sedangkal” yang terlihat di permukaan. Dia mengupas masalah lebih dalam, mengatakan bahwa keputusan ini bukanlah diambil untuk memutuskan interaksi rakyat, terlebih mata pencaharian masyarakat.

Ahok menjelaskan kepada Kompas, area Monas sudah jadi taman bermain para mafia. Para gembong mafia mematok daerah berjualan, dalam bentuk kavling dan membisniskan lahan tersebut. Permainan ini juga melibatkan para aparat, yang dengan mudahnya dirayu uang dan disogok untuk bekerja sama. Ahok yang sumbu kesabarannya sangat pendek, memutuskan untuk “mengusir” semua PKL Monas terlebih dahulu sebelum mampu menetralisir Monas dari cengkraman Mafia.

Tapi sebelum jauh mempreteli kasus ini, sebenarnya siapa yang dikategorikan sebagai “rakyat miskin” atau “orang kecil” atau “masyarakat jelata” di Jakarta? Saat tertekan atau diterjang masalah, entah kenapa masyarakat Indonesia senang sekali berlindung di balik tameng “orang miskin”. Tapi apa sebenarnya parameter valid seseorang dikatakan miskin?

Menurut Badan Pusat Statistik, penduduk miskin adalah penduduk Indonesia yang memiliki pendapatan per kapita di bawah Garis Kemiskinan. Masih menurut BPS, tercatat pada bulan September 2013, Garis Kemiskinan DKI Jakarta adalah sebesar Rp. 434,322 per kapita per bulan. Jadi, orang dengan penghasilan di bawah angka itu dikategorikan sebagai penduduk miskin. Dalam waktu satu dasawarsa, Garis Kemiskinan DKI Jakarta mengalami kenaikan lebih dari 100%. Pada 2003, angka GK tercatat sebesar Rp.186,525. Grafik di bawah menunjukkan fluktuasi GK dari 2003-2013.

Garis_Kemiskinan_DKI_Jakarta (1)

Miskin karena Rokok?

Dua visualisasi data di atas menunjukkan faktor-faktor substansial yang memengaruhi Garis Kemiskinan. Grafik pertama menunjukkan faktor-faktor yang berkaitan dengan makanan. Tapi bila Anda perhatikan, Rokok ternyata dikategorikan sebagai bagian dari makanan, dan lebih mirisnya lagi benda ini masuk ke dalam urutan ke dua terbesar, di bawah beras dan di atas telur ayam ras. Secara logika, kebutuhan para rakyat miskin akan rokok jauh lebih substansial dibandingkan dengan bahan makanan dasar seperti telur, daging dan gula pasir. Jelas, ada anomali.

Grafik kedua menunjukkan faktor-faktor garis kemiskinan yang tidak berkaitan dengan makanan. Terlihat dengan signifikan bahwa perumahan merupakan segmen yang persentasenya paling besar. Masalah permukiman di Jakarta tentu bukanlah problem asing lagi, dan isu ini semakin mengakar dan menyerempet hal-hal lain yang memayungi infrastruktur secara keseluruhan.

Bukan rahasia: Jakarta tidaklah ramping. Pada siang hari ada lebih dari 12 juta nyawa meninggali raksasa megapolitan ini. Pada malam hari jumlahnya menyusut, tapi tetap mengerikan: 9 juta. Data yang dilansir oleh data.go.id menyatakan sebanyak 3,72% penduduk Jakarta dinyatakan miskin: punya penghasilan di bawah Rp.424,322 per bulan. Pertanyaan selanjutnya: di mana mereka bermukim?

Visualisasi di bawah menunjukkan persebaran masyarakat miskin di DKI Jakarta. Tentunya secara logika, Kepulauan Seribu punya angka terkecil dibandingkan tetangga-tetangganya. Tanpa membandingkan Kep. Seribu, secara sekilas terlihat bahwa perbandingan antara Jakarta Utara, Timur, Barat dan Selatan hampir bersaing. Jakarta Pusat – daerah Monas bersemayam menyumbang angka paling kecil: 357.000 nyawa saja. Jakarta Utara juaranya, sebanyak sekitar 926.000 nyawa merupakan rakyat miskin.

Jumlah_Penduduk_Miskin_DKI_Jakarta_2010_0000

Menurut data BPS, pada tahun 2013 Jakarta mengantongi lebih dari sepuluh juta nyawa. Dari angka tersebut, pada September 2013 tercatat 375.700 nyawa merupakan warga miskin. Bila dibandingkan dengan bulan Maret, angka ini 21.510 lebih tinggi. Berarti, selama Maret hingga Sept 2013, setiap bulannya ada 4.302 warga miskin baru di Jakarta. Bukan angka yang kecil. Dengan populasi 4 ribu orang, Anda bisa membuat sebuah kota kecil baru.

Saat presiden menyalahkan naiknya inflasi dan indikator Garis Kemiskinan atas kondisi ini,  tapi tampaknya para masyarakat miskin harusnya sudah mulai berpikir dua kali untuk tetap bermukim atau mendatangi Jakarta. Karena pada akhirnya, sapa suruh datang Jakarta, sandiri suka sandiri rasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s