Media, Mobile dan Indonesia

Clusterflunk stock photo.

ditulis untuk www.marketingcraft.asia

Bila Anda pelaku media, ada tiga pertanyaan yang harusnya Anda tanyakan sekarang juga.

Fakta baru: Bangsa Indonesia kini tidak hanya ramah, sopan dan memegang budaya ketimuran, namun juga menjadi mobile first country. Pernyataan ini dilandasi oleh berbagai survei dan penelitian yang berusaha mengupas perilaku Online masyarakat Indonesia. Penelitian terbaru yang dihelat oleh Baidu mengemukakan angka-angka yang signifikan: Sebanyak 59% pengguna Internet di Indonesia Online menggunakan ponsel pintar, dan lebih dari 40% di antaranya berumur 18 hingga 25 tahun.

Laporan lansiran Emarketer yang baru saja dirilis juga menawarkan gagasan yang tak kalah menarik: empat tahun dari sekarang, Indonesia diramalkan akan jadi raksasa mobile, diprediksi merajai posisi keempat terbesar sedunia untuk pasar ponsel pintar. Bersama Indonesia, saudara-saudara jauh dari Asia – Cina dan India – akan duduk di singgasana yang sama. Prediksi ini nampaknya bukan isapan jempol, mengingat pertumbuhan pengguna aktif ponsel pintar di Nusantara cukup agresif. Pada 2015 sebanyak 53 juta orang Indonesia akan jadi pengguna aktif ponsel pintar, dan pada 2018 akan mencapai 103 juta nyawa. Indonesia bahkan dengan mudah menyalip Brasil, negara dengan pasar mobile yang pesat pertumbuhannya.

Pergerakan masif ke arah mobile culture tidak hanya menggemburkan lahan bisnis, namun juga menggiring Indonesia memasuki babak baru dunia informasi. Perkembangan memancing perubahan besar kepada masyarakat mengakses informasi, dan bagi perusahaan media Indonesia, hal ini berarti satu hal: adaptasi besar-besaran.

Pengguna_aktif_ponsel_pintar_di_Indonesia_per_bulan_juta

Sejak teknologi menginvasi dunia informasi, perusahaan media di Indonesia melaju di sirkuit yang sulit. Bagaimana mengimbangi inovasi terbaru dan mengaplikasikan prinsip dan sudut pandang yang tepat terhadap semua pilar: pembaca, pengiklan dan sumber informasi. Mungkin apabila para pelaku media lincah bermigrasi ke platform digital, nama-nama publikasi dari perusahaan raksasa seperti Kompas Gramedia atau MRA Group tidak harus karam.

Berikut tiga pertanyaan yang harus jadi pertimbangan perusahaan media dalam melancarkan strategi digital di era mobile:

1. Sudahkah situs Anda memiliki desain responsif?

Situs yang responsif vital karena berkaitan erat dengan reading experience audiens media Anda. Desain dan layout yang tersaji harus bersifat lentur, menyesuaikan dengan platform yang digunakan audiens saat mengakses berita: baik desktop, tablet maupun mobile. Pembaca akan dengan mudah meninggalkan atau pindah ke situs lain ketika menemukan tampilan situs tidak nyaman dan mudah. Hal ini menjadi esensial terlebih saat Indonesia pelan-pelan berjingkat menjadi mobile first country. 

Beberapa bulan lalu situs BBC Indonesia “berdandan”, menyulap tampilan websitenya menjadi jauh lebih mobile friendly. “Data menunjukkan bahwa mayoritas pembaca BBC Indonesia mengakses melalui mobile jadi kami harus mengubah tampilan, ” jelas Liston Siregar, desk editor BBC Indonesia yang bertugas di London. Dalam perbincangan santai dengan Meiky Sofyansyah, GM Business Development & Marketing Communications Tempo Group mengatakan bahwa mobile perlahan-lahan jadi prioritas Tempo Group. “Lebih dari 50 juta orang Indonesia mengakses Tempo melalui ponsel pintar. Kami akan lebih berfokus mengembangkan mobile di 2015,” ujarnya.

2. Apakah Anda melacak pergerakan audiens?

Pada medio 2014, perbincangan hangat tentang “the Death of Homepage” mencuat ke permukaan. Kunjungan pembaca ke halaman utama situs-situs media mengalami penurunan yang sangat signifikan. Homepage tidak lagi dipertimbangkan jadi sesuatu yang penting bagi pembaca. Hal ini terjadi dipicu oleh perubahan perilaku konsumen dan reaksinya terhadap perkembangan media sosial.

Kini audiens bisa “meloncati” halaman utama situs berita dan langsung membaca halaman artikel karena proses konsumsi berita kebanyakan dimulai dari halaman media sosial, bukan halaman utama situs yang bersangkutan. Berita yang dibaca melalui media sosial juga sudah menempuh proses kurasi, sehingga besar kemungkinannya audiens menemukan berita yang tepat guna, ketimbang harus menyisir halaman utama situs berita. Data dari Pew Research menyatakan bahwa di kalangan masyarakat AS, Facebook merupakan media sosial untuk news discovery yang terbesar. Hal ini sangat penting untuk jadi pertimbangan strategi distribusi yang bisa dilancarkan oleh perusahaan media di Indonesia.

Bersamaan dengan itu, kurasi kini jadi proses yang penting dalam konsumsi informasi. Pembaca ingin punya akses lebih untuk menyeleksi jenis informasi apa yang ingin mereka temukan, khususnya dalam format mobile, karena seringkali tidak memiliki waktu banyak. Beberapa aplikasi news reader seperti Flipboard, Zite, Yahoo! News Digest  dan Kurio merupakan bukti bahwa kurasi kini juga jadi bagian penting.

3. Apakah Anda memiliki model bisnis yang relevan?

Pada akhirnya, pertanyaan penting yang harus tetap dicamkan adalah soal uang. Hari ini, bagaimana cara perusahaan media mencari uang? Metode klasik, tentunya dengan memasang iklan, namun apa definisi dari iklan di ranah digital? Angka yang tidak terelakkan: beberapa tahun terakhir ada penurunan Click Through Rate untuk display ads, yang ini hanya berkisar 0.1% – 0.15%, dan akan terus menurun.

Ada beberapa alasan yang bisa dijadikan argumen mengapa display ads tak lagi efektif. Media sudah seharusnya bermigrasi ke Native Advertisement, yang jauh punya bobot dan makna. Dalam perspektif jurnalistik, banyak kekhawatiran bahwa Native Ads tidak mengamalkan prinsip dasar teori Firewall, dan meleburkan objektivitas pemberitaan media massa. Padahal, idealnya justru Native Ads memberlakukan prinsip Firewall yang sangat kokoh, hingga tidak terjadi bias dalam pemberitaan. Hingga saat ini, Content Marketing merupakan salah satu business tool efektif yang bisa mendulang revenue bagi media massa, dan memberikan added value kepada semua elemen industri: audiens, publishers dan brand.

Para pakar sudah meramalkan 2015 akan menjadi tahun Content Marketing dan Native Advertising, dan sudah saatnya para pelaku media mau belajar untuk lompat dari zona kenyamanan, beradaptasi dan yang terpenting: melaju secepat inovasi teknologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s