Awal Baru (Bagian 1)

KONG // Rue du Pont Neuf - Paris // May 2014

KONG // Rue du Pont Neuf – Paris // May 2014

Perubahan bukan hanya tentang apa dan mengapa, tapi juga tentang siapa.

Secara konsisten, untuk waktu lama saya selalu mencibir semua hal yang beririsan dengan “cinta sejati”. Lalu saya kerap menyalahkan hidup, menghujat pemahaman yang tidak berbanding lurus dengan pola pikir saya: memperlakukan cinta seperti strategi wirausaha atau ilmu matematika.

Dulu, saya pikir “cinta” adalah emosi yang dianyam dengan logika: menakar komitmen seperti tengkulak mencatat daftar tagihan, tak ubahnya para ekonom berteori, berinvestasi perasaan seminim-minimnya dengan mengharapkan keuntungan sebesar-besarnya. Saya pikir saya sudah cukup perasa untuk ukuran seorang manusia, padahal yang saya pakai hanya rasio semata.

Saat pertama kali bertemu Cristi, rasanya seperti mengencani seorang alien. Baginya, cinta adalah nilai tukar yang utama. Bukan, ini bukan tentang warga negara, kultur, atau beda belahan dunia. Semua normalitas yang saya junjung tinggi jadi anomali, harga diri saya yang menumpuk kelewat tinggi ternyata hanya seonggok rasa malu dan gengsi. Cintanya primitif dan eksplosif, dan saat itu saya jadi seorang robot yang bertindak sesuai program rencana ruas-ruas isi kepala. Definisi-definisi yang saya amini ditantang, konsep-konsep yang saya anggap bernas ditinjau kewarasannya.

Jauh dari frasa “honeymoon phase” yang melenakan, kami memulai semuanya dari Nol. Kerongkongan serak berteriak, emosi terkuras dan otak berpikir keras. “Bertemu di tengah”, jadi jargon kami di paruh tahun pertama. Menyamakan frekuensi, bertukar obrol mengenai tradisi dan mimpi agar gesekan perbedaan bisa lebih melebur jadi satu warna. Saya tidak pernah tahu sebelumnya bahwa saya punya tenaga sebesar itu untuk berkompromi, berlapang dada dan bertengger di dimensi yang sama dengannya. Ada energi yang tidak pernah saya miliki, jadi tahan banting dan kebal terhadap interaksi yang asing sensasinya. Padahal, tidak mudah melatih bertatih aksara yang tak pernah kita injak teritorinya. Seperti layaknya  bocah ingusan belajar berhitung. Seperti menghapal sebuah kamus bahasa, mengkaji kitab suci.

Setelah perlahan kehidupan kami berjalan selaras dan seimbang, tantangan berikutnya bertamu ke depan mata. Saya terpaksa meninggalkan London dan kembali ke Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan menyeruak ke dalam benak kami: apa rencana selanjutnya? Kami berdua tak tangguh menghadapi jarak, belum lagi perbedaan waktu yang mengganggu. Saya “pulang meninggalkan rumah”, kembali ke Jakarta setengah terpaksa dengan hati tak rela.

Di dalam hati kami tahu bahwa saya dan Cristi akan memasuki fase terberat di dalam hubungan kami. Benar saja, long distance relationship adalah akar dari segala bencana. Berbekal hampir tanpa referensi, kami merencanakan cetak biru awal baru hubungan kami: kepindahan Cristi ke Jakarta. Selama sekitar enam bulan terakhir, kami saling mengunjungi: Cristi singgah ke Jakarta dan saya terbang ke London. Tidak efektif, tidak gampang dan yang utama, tidak murah. Pertengkaran via layar komputer yang diwasiti perbedaan waktu tujuh jam, rasa frustrasi dan putus asa.

Mendesain kepindahan ke negara se “maju” Indonesia sama sekali tidak mudah. Miskin informasi, pailit referensi dan minim sumber daya menjadikan misi ini jadi luar biasa menyita waktu dan tenaga. Kami mulai dari hal yang paling mendasar: karir dan legalitas. Setelah banting tulang menggali peluang, pada bulan Maret akhirnya Cristi bisa mendapatkan pekerjaan (dengan penekanan) secara legal dengan proses yang semestinya. Cetak biru awal baru jadi semakin jelas: kepastian kepindahan Cristi semakin tinggi dan kini kami mengurus surat-surat serta menyiapkan infrastruktur kehidupan yang mumpuni. Setelah hubungan LDR yang beracun, akhirnya kami berdua akan tinggal di Jakarta – untuk saat ini.  Sama sekali bukan proses yang mudah. Lagi-lagi energi yang tidak pernah saya miliki sebelumnya.

Kini bila kini saya melihat kembali ke dalam diri dan berkaca, sudah terlalu banyak perubahan yang menerpa sejak bertemu dengan Cristi. Perubahan yang saya alami selama hampir dua tahun, melampaui apa yang terjadi 25 tahun sebelumnya. Ini bukan lagi angin perubahan, ini badai perubahan. Saya seorang penulis, terlatih untuk bermain elaborasi menyampaikan isi kepala, tapi sejujurnya terlalu sulit untuk merangkum secara komprehensif apa pengaruh Cristi terhadap saya. Seandainya saya bisa menerjemahkannya jadi kata-kata yang mudah dicerna, penjabaran itu sudah Anda baca sejak paragraf pertama.

Dulu, hidup saya terurai menjadi gol-gol dan mimpi yang tak ada ujungnya, memupuk ambisi di atas hasrat yang tak berfondasi. Perjalanan jauh tanpa alat ukur dan waktu yang terulur. Kini saya bisa bilang dengan sederhana: bersamanya, saya bahagia dan berhak atas kebahagiaan tersebut.

Comments 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s