Awal Baru (Bagian 2)

IMG_9748 copy

Medio 2010, Jatinangor.

Saya benci berpakaian rapi (pada saat itu). Rambut terpangkas sopan bersanding dengan kemeja putih bersih yang lugas dimasukkan ke dalam celana bahan hitam. “Tampak seperti pelayan dari tahun 90an,” pikir saya. Lalu lintas di dalam kepala riuh rendah, berseliweran informasi-informasi yang sudah mati-matian saya minta agar ‘nyangkut’ di kepala sejak semalam sebelumnya.

Tanya saja pada mereka yang pernah bermukim di sana: Udara di Jatinangor tak pernah ramah untuk mereka yang ingin bertempur. Temperatur yang membius rasa semangat, merayu penghuninya untuk membuat keputusan gegabah, atau sekadar pulang ke kosan, merebus seporsi mi instan lalu terlelap. Kami selonjoran di koridor ruangan jurusan Jurnalistik Fikom Unpad, dikawal oleh bertumpuk-tumpuk dokumen tebal, dan rasa percaya diri yang semakin menipis.

Ide besarnya adalah ingin menguji seefektif apa media sosial Twitter bisa digunakan oleh masyarakat Jakarta untuk menghadapi kemacetan. Saat itu saya meneliti akun Twitter @infoll, yang sudah aktif mewadahi informasi lalu lintas yang – tentu saja – 100% user generated. Di momen itu, sudah sekitar 1,5 tahun saya menggunakan Twitter dan tidak pernah sejatuh cinta itu dengan platform media sosial lainnya.

Pada tahun 2010 – zaman di mana media sosial masih dianggap asing di dunia jurnalisme, keputusan untuk mengangkat Twitter sebagai subjek penelitian tentu saja disambut dengan sebelah mata oleh tim dosen, dengan tuduhan bahwa media sosial bukanlah jurnalisme. Ada benarnya, namun banyak pula salahnya.

Dalam obrolan saya dengan VP Global Media Twitter Katie Jacob Stanton, dia menekankan bahwa Twitter bukanlah sebuah outlet media massa dengan fungsi jurnalistik. Namun fakta bahwa pilar-pilar dasar Twitter sebagai platform komunikasi beririsan dengan kegiatan jurnalistik tidak dapat disangkal.

Setelah mengalami banyak fase, Twitter kini jadi “kuil” dari citizen journalism dunia, bila Anda menilik akun @storyful, @newszulu atau @AJplus, dengan mudah Anda bisa mengerti sebesar apa peran Twitter di dalam dunia jurnalisme hari ini. Karakteristik Twitter diamini oleh dua aspek nilai berita: faktualitas dan aktualitas. Silakan berkaca pada peran Twitter dalam banyak peristiwa dunia yang lalu-lalu: Revolusi mesir, penembakan Charlie Hebdo, hingga bencana Nepal.

Saya bisa menulis ribuan kata tentang efek Twitter terhadap dunia informasi, namun rasanya kurang penting untuk Anda baca. Tentunya Media Sosial membawa kelebihan dan kekurangannya masing-masing, kita ada di era di mana peradaban mencari cara terbaik untuk menjejakkan kaki secara sempurna, menanggapi etika dan dinamika Media Sosial. Orang-orang yang dekat dengan saya tahu bahwa saya pemilih dalam berinteraksi di media sosial. Tidak semua platform saya gunakan, karena pada dasarnya saya hanya mau fokus kepada platform yang paling cocok dengan karakter saya.

Singkatnya, para penguji saya tidak suka terhadap subjek penelitian saya. Seorang penguji mengatakan saya hanya mengadopsi budaya populer tanpa ada analisa kritis dari perspektif jurnalisme. Ada benarnya, namun banyak pula salahnya. Pada saat itu saya sejujur-jujurnya sudah tidak perduli lagi dengan proses pengerjaan skripsi yang sudah memakan waktu terlalu lama, akhirnya saya revisi seadanya dan lulus dengan nilai Skripsi C.

Saya pulang dan tinggal di rumah orang tua saya seminggu belakangan dan teringat untuk pergi ke kamar lama saya dan membongkar naskah skripsi saya yang sudah tertimbun di antara CD-CD dan buku yang berserakan. Lucu bagaimana alur kehidupan terkadang terkesan seperti skrip sebuah film, tertata dan terencana. Lima tahun setelah siang itu di Jatinangor, saya bekerja sebagai Partnerships Manager di Twitter. Tentunya keadaan Twitter di Indonesia berbeda dengan tahun 2010. Kini si burung biru sudah sah jadi raksasa media sosial, jadi salah satu yang signfikansinya paling tinggi di antara raksasa tech lainnya seperti Google dan Facebook.

Ini jadi awal baru untuk saya karena beberapa hal: 1) Ini pertama kalinya saya bekerja tidak dalam konteks editorial, setelah lima tahun sejak lulus kuliah bekerja dalam koridor jurnalistik dan 2) aneh sekali sensasinya bekerja untuk sesuatu yang hingga kini saya idolakan. Pekerjaan ini juga selaras dengan kepindahan Cristi ke Indonesia setelah saya beranjak dari London ke Jakarta.

Aneh saat kita menepi, berhenti, melihat ke belakang dan sadar bahwa banyak sekali yang berubah, bergeser dan melaju ke depan.

IMG_9527

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s