Sepertinya Cukup

usma45709-bw.jpeg

Cerita tentang hidup dari rumah peristirahatan manula di tepi pantai yang teduh.

Astari benci frasa “rumah jompo”. Ia tidak mau dijebak oleh kata-kata itu. Kursi kedua dari pojok kiri di balkon utama, pukul 17.25 sore saat matahari perlahan undur diri. Di situ, Astari rutin mendaratkan diri barang sejenak untuk melihat jauh ke arah lautan. Debur ombak berbalas balasan, menemani mengunjungi memori-memori lapuk yang tersisa di ingatannya. Biru laut dan langit berbaur, menenangkan dan membuatnya terjaga di saat yang sama.

Bagian pertama: Tentang Kematian

Di umur 73, dia tidak pernah menyangka akan menemukan sahabat-sahabat baru di bawah atap yang sama. Mereka datang membawa cerita berumur setengah abad, sedih dan tidak jarang penuh kabar gembira. Tumpukan cerita kehidupan, yang tak ragu dibagi di bawah rutinitas yang sama. Astari tumbuh mesra, menghabiskan tahunan dengan kawan-kawan baru berkawan pasir pantai dan matahari yang menyengat. Dari belasan yang Astari dekap di dalam hati, Esther jadi yang paling istimewa.

Esther seorang Gemini sejati yang benci astrologi. Mereka jadi akrab 4 tahun lalu, ketika Astari memuji sweater jingga Esther, pemberian cucunya yang berdiam di pulau Sumatra. Esther lugas dan selalu ceria, namun tidak mudah menjaga emosi ketika ada yang membahas soal rasa masakannya. Pengalamannya puluhan tahun menjalankan bisnis makanan raksasa membuat Esther tak sudi untuk tunduk kepada komentar-komentar para penghuni rumah.

Kemarin petang Esther meninggal jatuh terperosok, tersandung handuk yang tercecar di lantai, membentur kepalanya dan sekelibat dia dipanggil yang kuasa. Sesederhana itu dia dipanggil, serumit itu perasaan Astari dibuat karenanya. Tubuhnya lunglai mendengar kabar dari kamar tidurnya, menghela napas panjang dan memaksa diri untuk beranjak bangun hadir di ruang tamu utama, di mana suster kepala mengumumkan kepergian Esther. Astari kembali ke kamar dan membisu hingga malam usai, dan bangun keesokan hari dengan perasaan berantakan yang tak bisa juga ia tuangkan ke kata-kata. Seperti menelan pil pahit. Pukul 17.25, dia kembali tertegun di kursi yang sama.

Di usia senja, Astari berlatih untuk tidak punya ekspektasi. Ia tidak akan tahu apakah mati adalah mula atau tujuan. Di malam-malam yang panjang saat angin Utara menyeringai, ia kerap bermimpi tentang kematian. Di mimpinya ia bergaun putih bersih, membawa pigura foto anak sulungnya, berdiri tegak di hadapan ombak menjulang berwarna emas yang akan melahapnya. Astari tersenyum, ribuan ingatan kehidupannya berlomba hinggap di kepala. Ribuan pertanyaan tentang sepantas apa, sebaik dan seburuk apa sudah sirna di depan ajal yang membahana.

Kematian tidak lagi menakutkan, karena Astari tahu, bahwa ia cukup. Kematian bukanlah kutukan, karena di situ dia pulang.

Pulang menjemput dirinya sendiri yang telah lama ia rindukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s