Sahala & Hal-hal yang Sederhana

Ditulis sebagai bagian dari buku apresiasi alumni Jurnalistik Unpad kepada Pak Sahala Tua Saragih

Saat penat akan rutinitas, belakangan ini saya sering memejamkan mata membayangkan momen di masa lampau yang nyaman dan menenangkan. Lalu muncul kilatan-kilatan memori hidup di Jatinangor, saat semuanya lugas dan sederhana.

Kumpulan adegan yang menyeruak di ingatan biasanya tak jauh-jauh dari perjalanan bersama Jurnal 2005, Orientasi Jurnalistik dan kegilaan-kegilaan lain yang tak ada habisnya. Lucunya, dari semua itu hanya kelas-kelas Pak Sahala yang menyangkut di kepala. Melihat ke belakang, nampaknya ilmu yang diajarkan beliau terus menerus merasuk ke dalam prinsip bekerja saya.

Saat iseng riset, menurut kamus bahasa Batak arti kata Sahala adalah: kemuliaan, karisma, khidmat, kesaktian dan wibawa. Memang benar, nama adalah doa.

Nama dan imej Pak Sahala memantul-mantul seperti mitos di dinding kampus FIKOM jauh sebelum saya menjebak diri sendiri dengan sukarela ke dalam jurusan jurnalistik. Bagaimana tidak, dalam setiap tahunnya Anda akan berjumpa dengan Pak Sahala dalam format penderitaan yang berbeda-beda. Dalam senyum dan keramahannya, Pak Sahala menggempur mahasiswanya dengan tugas harian, mingguan dan tugas pamungkas di akhir perjalanan.

Dalam konteks ruang kelas, satu hal yang dia selalu tunjukkan dengan konsisten adalah perbedaan antara rasa takut dan hormat. Sepanjang mengikuti kelas Pak Sahala dan mengerjakan tugas-tugas beliau, tidak pernah sekalipun saya merasa takut terhadap beliau. Sebagai seorang pendidik, Pak Sahala adalah pribadi bersahaja, ramah, bahkan jenaka. Namun, itu dia jebakannya: beliau pengajar dengan karakter baik dengan standar jurnalistik yang “jahat”.

Tak pernah saya menemukan pengajar dengan keteguhan dan konsistensi setinggi beliau, dibungkus dengan kepribadian yang rendah hati namun tegas.

Yang lebih mencekam lagi: Anda tidak akan punya alasan untuk membenci pribadi Pak Sahala. Untuk setiap perasaan putus asa yang Anda alami dari kelas Sahala, rasa itu tertuju kepada diri sendiri. Rasa frustasi yang Anda rasakan, murni karena Anda frustasi terhadap diri sendiri. Dalam standar yang sangat tinggi, Pak Sahala mengajarkan ilmu yang lebih berharga dari sekadar tulis menulis: untuk bertanggung terhadap diri sendiri. Memandang ke belakang, sengsara akibat tugas Pak Sahala kini terasa konyol karena hidup ternyata tak sesederhana jejeran mata kuliah penulisan yang Ia gawangi.

Saat bekerja jadi jurnalis, ajaran beliau adalah satu-satunya ilmu praktis yang implementasinya nyata di keseharian saya menjadi wartawan. Sifat perfeksionisnya yang dulu jadi momok di dalam kelas, berubah jadi karunia saat berhadapan dengan realita. Saya ingat momen ketika pertama kali tulisan saya diedit oleh editor dan dia bergumam di samping saya.

“Wah ini lumayan rapi, not bad for a fresh graduate.” Saya hanya tersenyum, namun saya berkata dalam hati “Iyalah, muridnya Sahala”.

Ajaibnya, tiga tahun terakhir saya tidak lagi berprofesi sebagai jurnalis namun prinsip dan nilai yang ditanamkan oleh Pak Sahala masih saja relevan dalam keseharian saya bekerja. Kali ini bukanlah detil tentang titik koma namun ketelitian, disiplin dan konsistensi yang dia ajarkan jadi pedoman saya. Yang Ia ajarkan bernas tidak hanya dalam koridor jurnalistik, namun jauh lebih luas dan konseptual.

Jurusan jurnalistik FIKOM Unpad memberikan kawan, kenangan dan pelajaran yang lekat ke dalam diri dan kepribadian namun sampai sekarang saya masih belum yakin apakah hal itu adalah keputusan terbaik, atau terburuk di hidup saya. Love and hate relationship, kata orang-orang.

Yang saya yakin, Pak Sahala sukses memberikan rona yang tak tergantikan bagi diri saya, dan mungkin banyak orang lain yang ada di dalam kelas-kelasnya. Selamat jalan Pak Sahala Tua Saragih, terima kasih banyak atas semua pengabdian dan ilmu yang diturunkan ke kami. Terima kasih sudah mendidik kami menjadi manusia yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s