Derau dan Kesalahan: Satu Dekade Rasuk

8815f24e28bbb142d05001d9e927f756.513x513x1

Ditulis untuk kawan-kawan Bekasi saya. Bukan tulisan berbayar.

Saya punya tiga masalah.

Masalah pertama: Sulit sekali menulis objektif tentang sesuatu yang dekat di dalam hati. Terkadang memori yang terbentuk di dalam kepala tentang sesuatu terasah berdasarkan bagaimana kita mau memandangnya. Termasuk semua hal yang menghangatkan hati – juga yang membuat murka. Memori yang kita putuskan tinggal di dalam kepala, hanya yang lolos dari proses seleksi otak dan perasaan. Walaupun keberimbangan tampak mustahil saat saya menulis didampingi memori-memori terbaik di awal dekade 20-an, saya menghukum ego di tulisan ini untuk bisa lebih dewasa dalam memaparkan perasaan mengenai subjek yang akan saya cermati – juga perihal hal-hal yang tersangkut di dalam prosesnya.

Masalah kedua: Subjek yang saya cermati adalah The Trees and The Wild (TTATW), yang dulu saya manajeri. Kurang lebih satu dekade lalu, di periode 2009 – 2011 kami biasa berkumpul jam 5-6 pagi di rumah Andra di komplek Galaxy Bekasi Selatan – lokasi paling strategis sebelum pergi soundcheck. Saat itu kami jajal semuanya – pensi di pinggir kota, show spontan di negeri Jiran, tur darat dengan rute tidak masuk akal hingga perjalanan nekat sehari menggelar tiga pertunjukkan sekaligus. Minim referensi, semuanya kami pelajari dari nol: menggelar pertunjukkan yang mumpuni, siasat ekonomi agar bisa bertahan hidup, hingga penampilan-penampilan musik terbaik yang membekas di dalam kepala.

Dari momen itu, saya pertama kali belajar menata kegiatan bermusik, melihat kesempatan bisnis dan membangun sesuatu bersama-sama orang-orang yang sevisi. Kesuksesan kecil terasa monumental untuk dirayakan, dan kegagalan besar terasa ringan karena kami cerna bersama. Sekumpulan anak Bekasi yang hampir semuanya baru lulus kuliah, bersenjatakan idealisme dan perangai spontan yang tak jarang ceroboh. Jelas, scene Ibukota tidak semeriah hari ini, namun cukup berwarna untuk menetap di dalam memori. Saya ingat kantong-kantong komunitas penting yang banyak membantu mengayuh karir TTATW di 2 tahun pertama sejak Rasuk meluncur – kawan-kawan Hey Folks di Jl Bumi, Aksara Records, Sinjitos dan Ruang Rupa. Tidak heran kalau kami (saya) merasa menjadi alien di tengah-tengah kawan-kawan itu, karena 100% tim TTATW berasal dari Bekasi yang brojol tanpa harta, koneksi wangi atau sejarah studi mancanegara. Satu-satunya berkah yang mampir saat itu: keterlibatan Agus Sasongko dari Lil’ Fish Records yang menghubungkan kami ke jaringan-jaringan penting.

Fast Forward tujuh tahun sejak Rasuk dirilis, di sebuah siang saya duduk manis di depan laptop kantor ketika kali pertama mendengar track Zaman, Zaman diunggah di Youtube dengan latar warna hitam minimalis dan kolom komentar yang dikunci. Track pembuka yang tegas menyuarakan penjelajahan lanskap baru TTATW di era barunya – eksplorasi bebunyian yang dalam dan teliti. Pengelolaan suara yang baik – seimbang secara mendalam dan meluas.

Tidak akan mudah bagi pendengar yang keras kepala untuk mengenyam Zaman, Zaman. Album ini bersih dari hook-hook manis, persimpangan-persimpangan yang membuat alis mendongak dan part-part sing-along yang mendulang euforia. Jika masih haus akan jurus-jurus itu, silakan putar setir Anda dan dengarkan lagu-lagu Barasuara. Zaman, zaman menyeruak segar dan berbeda dengan repetisi panjang yang menantang kesabaran, lembaran eksplorasi bebunyian, dan nuansa monokrom yang lekat dengan amarah dan rasa depresi. Sungguh haluan yang berbeda nuansa.

Tidak ada yang sadar bahwa sepuluh tahun lalu The Trees and The Wild merilis Rasuk – cetak biru band-band folk senja yang Anda cibir sekarang di social media (besar kemungkinan karena album ini tidak tersedia di layanan streaming musik di Indonesia. Bisa jadi karena bos labelnya yang hijrah). 

Sebelum Zaman, zaman resmi dirilis, selama tahunan saya amati – dari berbagai upaya pemolesan imej dan pembentukan karakter yang dilakukan TTATW baik di atas panggung atau di depan layar ponsel,  terlihat jelas bahwa Remedy dkk mantap memberlakukan album Rasuk sebagai “Pablo Honey” versi mereka – tidak dilupakan namun perlahan diabaikan. Dalam proses penyempurnaan Zaman, zaman, presence mereka di mata media dan publik pun berubah. TTATW menjadi introvert, minim pemberitaan dan melakukan kurasi informasi yang ekstra hati-hati. Seiring dengan status cult mereka yang terpupuk secara organik, The Trees and The Wild menjelma menjadi biksu-biksu post-rock yang mengasingkan diri ke atas gunung. Di tengah denyut-denyut informasi milidetik dan racun distraksi social media, langkah “pengasingan diri” yang mereka lakukan saya nilai tepat. Memisahkan diri dari derau yang membanjiri layar ponsel dan layar kaca.

Di atas panggung di era Zaman, zaman, TTATW menjadi ekstra teliti (dan terkadang grumpy) – denah panggung, lighting dan visual yang kuat menjadi elemen-elemen mandatory yang membedakan penampilan mereka. Hantaman musik puluhan menit absen basa-basi, jadi terdengar lebih nyaring dan tanpa tedeng aling-aling. Band “introvert” paling lantang. Perlahan tapi pasti, orang-orang mengerti apa mau mereka dan TTATW melahirkan pendengar baru dengan demografi yang lebih cocok dengan suguhan mereka di Zaman, zaman. Menonton penampilan mereka saya andaikan seperti menonton film hitam putih paling berwarna yang pernah Anda saksikan di Indonesia.

Masalah ketiga: Walaupun berusaha keras untuk menelusuri niatan, saya tidak tahu dengan jelas apa maksud dan tujuan dari tulisan ini. Saya menghabiskan waktu panjang untuk menimbang-nimbang, untuk merilis ini di blog atau tidak. Yang lebih jelas – saya tahu bahwa sold out concert mereka besok di Rossi Musik akan jadi sebuah suguhan musik yang menggugah telinga, mata dan hati Anda. Sungguh aneh membayangkan bahwa sepuluh tahun lalu saya memulai sesuatu yang sangat penting bersama mereka, dan kami sekarang sudah jauh melaju di depan, di tempat dan koridor yang berbeda. Tidak ada lagi amarah, hanya tinggal memori-memori penting dan pembelajaran yang tersangkut nyaman di dalam kepala.

Yang tak diam dengannya, hanya waktu.

b6da3c357822c52a5699e0905b6d8f95.1000x929x1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s