Takdir Media Musik di Era Pilar Kelima

Tanpa perspektif dan lensa yang tepat, jurnalis musik di Indonesia tidak lebih spesial dari siapapun dengan ibu jari, sebatang ponsel dan akun media sosial.

Para pegiat media dan penulis seharusnya sadar, di era di mana semua orang bisa menyuarakan opini dan referensi terhadap musik yang mereka suka, para praktisi media musik seharusnya menciptakan posisi tawar yang jelas di hadapan khalayak, bukannya tenggelam berusaha mengejar candu algoritma.

Saya berusaha merangkum beberapa hal penting, yang sekiranya berguna untuk dipertimbangkan di kala merumuskan DNA media musik Anda. Lebih jauh lagi, untuk para musisi (di luar institusi media) yang memutuskan untuk berinvestasi membangun presence media sosial yang kohesif, poin-poin ini juga baik untuk diimplementasikan.

Perjelas segmen audiens Anda

Di era ini, peran penentuan segmen audiens menjadi sangat amat krusial karena itulah yang akan menentukan tiga hal penting yang membedakan Anda dengan jutaan jempol di ponsel pintar lainnya: format+bobot informasi, tampilan visual dan Tone of Voice. Segmen audiens bukanlah hanya tentang jenis musik apa yang akan Anda liput dan Anda tulis, namun kepada siapa Anda bicara. Apalagi kini pendengar musik kini tidak hanya terpaku kepada satu jenis saja dan terafiliasi kepada satu jenis genre. Di sisi lain, jangan pernah berpikir Anda bisa melayani semua demografi audiens di Indonesia dan menyatakan bahwa “Target audiens media saya adalah semua orang Indonesia.”

Tanda besar lemahnya kredibilitas sebuah unit media adalah ketika tidak jelas siapa target audiensnya.

Tahapan ini sangat penting juga untuk mengukur seriuh apa potensi revenue dari segmen audiens yang Anda tuju di masa depan: Apakah ada commercial demand dari brand-brand yang sekiranya bisa menggunakan media Anda untuk menjaring perhatian khalayak banyak? Namun ingat, jangan pernah jadikan poin komersil sebagai acuan utama, tapi tetap waspada bahwa jika apa yang Anda lakukan punya daya tarik massa, akan selalu ada celah untuk me-monetisasi.

Aesthetics dan tampilan visual tidak selamanya harus mahal dan rumit – lakukan riset sederhana terhadap perilaku segmen audiens Anda, apa yang mereka konsumsi, bagaimana perilaku media sosial mereka, apa yang mencuat dan membuat mereka berinteraksi dengan sebuah konten musik. Jangan buat media musik hanya karena Anda punya banyak opini terhadap musik, terhubung dengan scene lokal dan kebetulan punya skill mumpuni untuk mengekspresikannya. Berpikirlah lebih jauh dari itu, jangan cepat tergiur dan jangan sekali-kali merasa bahwa jurnalis punya strata kultur sosial yang lebih tinggi.

Lebih dari sekadar discovery

Media musik yang modern dan relevan di Indonesia harus menawarkan lebih dari hanya sekadar discovery. Apa saja elemen discovery di dalam media musik? Rilis pers, poster acara, line up dari sebuah festival, informasi kasual mengenai artis atau penampil, pengumuman album / single baru, dan semua hal yang bersifat kebaruan atau pengumuman. Kenapa hal ini tidak impactful lagi? Karena semua hal ini biasanya sudah akan dilaporkan oleh media sosial dari individu/band/acara yang bersangkutan.

Saya selalu mengernyitkan dahi setiap kali membaca media musik yang mencantumkan sumber dari akun media sosial artis/acara yang bersangkutan. Kalau audiens bisa langsung mendapatkan informasi tersebut dari sumber berita yang sudah pasti lebih cepat, buat apa mereka menaruh perhatian terhadap informasi yang Anda sajikan? Jangan malas, dan ingin hasil yang instan.

Lalu apa yang sebaiknya diinformasikan? Ciptakan posisi tawar yang jelas: fokus kepada analisis dan tawarkan sudut pandang, bedah konteks yang lebih mendalam dan pastikan bahwa lensa Anda punya bobot, bisa menggerakkan interaksi organik. Bubuhkan pesan untuk berinteraksi dan tanya apa pendapat mereka, dengan tata bahasa yang cocok dengan segmen audiens Anda. Jangan malas, melambat sebentar dan tawarkan khalayak analisa musik dengan kacamata historis, atau berdasarkan data empirik. Jangan malas mencari kutipan narsum untuk menguatkan pernyataan Anda. Jangan malas melakukan verifikasi fakta.

Ingat, posisi tawar yang jelas bukan berarti Anda harus membuat in-depth article yang text-heavy belasan halaman setiap saat, pelajari juga cara mengemas informasi dengan cergas: gunakan opsi visual: video, foto, infografis, tabel dan apapun yang tidak membuat pembaca Anda tertidur bosan atau mengantuk.

Bersahabatlah dengan angka

Ini bukan lagi era romantis Lester Bangs atau Hunter S Thompson. Jurnalis musik modern tidak bisa alergi angka. Mulailah mempelajari dasar-dasar metric digital, dan ukurlah keberhasilan Anda melalui acuan yang lebih nyata. Pelajari dasar-dasar digital marketing: Impression, Engagement, Retention dst. Belajar untuk menjadikan metric sebagai salah satu bahan dasar Anda untuk mengolah rencana editorial. Peka jugalah dengan angka-angka seputar percakapan sosial: apa yang sedang relevan, populer dan apa yang sekiranya penting untuk diinformasikan sebagai konteks tambahan terhadap percakapan tersebut.

Banyak jurnalis yang berpikir bahwa pekerjaan mereka selesai setelah artikel/tulisan/konten naik, padahal di situlah tugas yang nyata baru mulai. Amati dengan teliti performance konten Anda, bawa kembali ke tim dan diskusikan, apa yang harus diubah, digeser dan dilanjutkan. Rendahkan sedikit ego penulis Anda, jadilah realistis dan mau berkompromi dengan apa yang keluar dari hasil analisa performance konten-konten Anda.

Ini bukan untuk membuat Anda menjadi budak SEO atau clickbait, namun untuk membiasakan agar bisa mempertanggung jawabkan tulisan Anda dengan dasar yang jelas. Kali ini angka-angka tersebut untuk jadi bahan presentasi tim, nanti di masa depan untuk bahan presentasi ke calon pengiklan. Percayalah, di negara seperti Indonesia tulisan berbobot tidak berarti akan mendapatkan perhatian yang banyak, namun dengan menggalakkan kesadaran akan metric setidaknya meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap kreasi Anda. Bedah konten-koten dengan performance terbaik, juga yang terburuk sehingga Anda mengerti apa yang harus distop dan apa yang harus dilanjutkan. Satu hal yang juga penting diingat, definisi konten yang baik di era ini bukanlah hanya terbatas kepada konten yang baik dikonsumsi, namun juga konten yang memancing penikmatnya untuk membagikannya kepada lingkaran pribadi mereka. Di sinilah peran relevansi target audiens menjadi krusial, terlebih jika ingin mengisi lahan komunitas.

Berikut tiga poin penting yang bagi saya bisa membantu Anda membentuk media musik yang lebih relevan di Indonesia. Apakah mudah? Sama sekali tidak, tapi memang tidak mudah membangun media musik kredibel di era social media.

Take the Power Back adalah rangkaian tulisan seputar lanskap musik lokal Indonesia, diulas menggunakan kacamata media dan teknologi. Ini adalah tulisan yang pertama, dari tiga seri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s