Sepertinya Cukup

Tulisan 1: Yang tak diam hanya waktu

Pembatas di hadapannya sungguh tebal, namun Astari bisa jelas melihat ada apa di balik kaca transparan tersebut. Saat kedua matanya terbuka, Ia butuh waktu 3-4 detik untuk menerka-nerka, sosok apa yang dia lihat. Entah kenapa nafasnya pun ikut tersendat – dan lehernya agak tersumbat sehingga udara keluar dan masuk dengan canggung. Sosok itu familiar, namun asing. Hangat, juga dingin seperti hampir terasa keji.

Matahari masih enggan tiba di pukul 4.27 ketika Astari terbangun dari mimpi buruknya. “Singkat, namun terasa sangat jelas di ingatan,” gumamnya sambil menarik selimut tebal favoritnya yang handal melindungi dari angin pesisir, belasan tahun terakhir. “Ini Jumat, jadi aku masih punya 45 menit lagi sebelum tugas piket sarapan dimulai,” ujarnya dalam hati.

Setengah lima pagi bukanlah waktu yang aneh untuk terbangun dari tidur di Panti Pelangi, Astari bisa mendengar kawan-kawannya sudah mengeluarkan suara dan menandakan kehidupan sudah dimulai, Jumat itu. Astari tidak terlalu suka hari Jumat. Dia hafal betul, menu makanan di hari Jumat bukanlah favoritnya karena Pak Burhan pasti baru saja belanja di pasar Ikan, jadi yang terhidang di meja panjang kemungkinan besar akan didominasi oleh ikan dan hanya sedikit sayuran. Astari yang berhenti makan daging sejak penghujung dekade kelima di hidupnya punya stok sayur mayur yang jadi andalan ketika santapan panti tidak bersahabat bagi lidah dan perutnya.

Di usia 87, menu makan siang saja jadi bahan pertimbangan penting. Di usia 87, hari-hari terasa panjang dan singkat di saat yang sama. Dia tidak akan pernah tahu hari itu akan menjadi awal, atau akhir. “Sudah tidak penting,” anggapnya. Udara pesisir yang berhembus panas di pertengahan tahun membuat Astari teringat dengan perjalanan-perjalanannya di masa muda. Darat, laut dan udara. Di bagian barat Panti Pelangi terdapat sejajar balkon yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, hal pertama yang membuatnya yakin bahwa Panti Pelangi adalah atap teduh yang dia butuhkan. Pukul 16.35, dia mendaratkan tubuh rentanya untuk menikmati suasana. Ombak menggulung pecah di bebatuan, beradu dengan teriakan anak-anak desa sekitar bermain di pinggir pantai. Dari lidah balkon, Astari mengamati dengan damai, tidak jarang ditemani dengan kawan-kawan Panti Pelangi lain yang datang dan pergi.

Di usia 87, Astari tidak mau punya ekspektasi apapun seputar manusia. Tidak bisa, lebih tepatnya. Butuh waktu puluhan tahun baginya untuk bisa bersyukur atas apapun yang ada, atau tiada. Esok, kemarin, sama saja. Rosa, kawan kelas merangkai bunganya mampu menggelar pagelaran cerita tentang masa lampaunya yang sangat gemilang, tak jarang membuat resah penghuni ruang utama yang lain karena dia sibuk bercerita berjam-jam, dan pendengar dongengnya itu hanya mengangguk setuju tanpa antusiasme. Di saat yang sama Astari juga kesal setiap kali Kak Feni, yang kerap ia temui di kelas yoga pagi hari, selalu sibuk bercerita tentang rencana-rencana bisnis di masa depan yang ia ceritakan dengan semangat. Seakan-akan dia masih hidup seratus tahun lagi. “Optimisme yang memuakkan,” ujarnya dalam hati.

Masa depan dan masa lalu jarang berdiam di kepala Astari. Dia hanya ingin jadi berguna, bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Dia mengerti, bahwa api kehidupan harus tetap terjaga di rumah peristirahatan ini. Sejak pertengahan Maret, Astari membuka kelas melukis khusus untuk merayakan memori. Tugasnya sederhana, para penghuni Panti diminta untuk mengingat sebuah objek yang mewakili satu memori tentang hidupnya. Objek ini lalu digambar oleh mereka, berdasarkan apa yang masih menyangkut di dalam kepala. Setelah digambar, peserta diminta untuk meredefinisikan memori itu, dengan apa yang mereka rasakan di kala usia senja. Butuh waktu sedikit untuk membuat kelas melukis Astari jadi favorit semua penghuni Panti Pelangi. Astari merasa jadi manusia seutuhnya, ketika bisa jadi berguna. Senyumnya merekah lebar menyambut belasan penghuni panti keluar kelas, dua kali seminggu.

Namun Astari tidak bisa tersenyum sore itu selepas kelas lukis, karena sebuah suara yang sangat familiar muncul seketika. Pukul 17.00, denting lonceng yang riuh menyeruak ke lorong-lorong panti, menyiarkan pertanda agar semua berduyun ke ruang utama. Air wajah para penghuni berubah menjadi masam, namun tetap menyeret kaki menuju ruang utama. Astari menahan nafasnya sangat panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Menyiapkan diri mencerna berita sedih yang mengiris hati.

“Terpeleset di kamar mandi,” bisik seorang ibu kepada temannya. Astari sayup-sayup menguping. Dia tiba di ruang utama, yang sudah sesak oleh sebagian besar penghuni panti. Di tengah-tengah Pak Burhan berdiri lemas, di sebelahnya terpajang foto hitam putih. Astari seketika terisak melihat foto Agatha terpajang. Astari dan Agatha masuk Panti Pelangi di hari yang sama, di sebuah Sore di hari Senin di bulan November. “Anak saya juga punya, warna yang sama,” ujar Agatha mengomentari tas kecil yang dibawa oleh Astari masuk ke dalam panti. Percakapan tersebut lalu menjadi awal dari persahabatan mereka belasan tahun di Panti Pelangi. Astari menemani Agatha menangis semalaman ketika dia tahu anaknya masuk lagi ke rehabilitasi narkoba, Agatha juga kerap melindungi Astari dari penyakit lupanya, dengan meninggalkan pesan-pesan di kertas kecil yang jadi pengingat Astari. Sore itu lonceng memanggilnya untuk memberikan pesan bahwa Agatha sudah tidak ada.

Astari tidak tahu harus sedih atau senang untuk Agatha. Dia tahu betul untuk waktu yang lama, Agatha sudah tidak lagi mampu dan mau meneruskan hidupnya. Di Panti Pelangi, kematian bukanlah musuh utama. Terkadang ia didambakan, oleh jiwa-jiwa yang sudah lelah menanti. Kedatangannya menguji jiwa yang ditinggalkan, namun tidak jarang dilalui dengan banyak senyum kelegaan dan keikhlasan. Ini alasan utama Astari tidak lagi peduli tentang kemarin atau esok hari.

—-

Tulisan 2: Maka Bernyanyilah

Kali ini Ia tidak bisa bernapas, dan kedua tangannya terikat. Kaca transparan tebal, masih terpampang di depan mukanya. Sosok di seberang kaca memperlihatkan wujudnya. Seorang manusia yang bergerak-gerak tidak berpola. Astari mengernyitkan dahi sambil berusaha memecahkan misteri di seberang kaca. Sang sosok seperti ingin mengatakan sesuatu dari mulutnya. Astari tidak bisa tahu apa yang orang itu ingin ucapkan. Hanya ada beberapa gagasan di kepalanya.

Lagi-lagi setengah lima pagi, Astari terjaga di atas kasurnya. Mimpi yang sama lagi-lagi mendatangi – kini dengan situasi yang semakin parah. Astari tidak habis pikir, penasaran tapi juga cepat-cepat beranjak bangun. Dia bersemangat. Jam 6 pagi di hari Kamis, panti sudah semarak. Beberapa sudah selesai merapikan kamar, sudah ada yang di atas pasir untuk meregangkan tubuh. Tidak sedikit yang sudah duduk di meja makan untuk menyantap teh dan sarapan sambil berbincang. Pak Burhan sudah rapi dengan kemeja krem andalannya. Hanya dipakai ketika hari spesial datang. Dia berkeliling membawa papan dan kertas, juga pensil. Menghampiri satu persatu penghuni dan mencatat dengan seksama.

Sabtu ini Panti Pelangi akan mengadakan acara tahunan favorit Astari – malam kreativitas. Semua penghuni dipersilakan tampil dan beraksi – boleh sendiri, berkelompok atau berpasang-pasangan. Semua jenis atraksi juga diperbolehkan – syaratnya hanya satu: ditampilkan untuk membuat penonton senang dan berbahagia. Astari sudah belasan kali tampil di malam kreativitas – baginya sudah jadi ritual tahunan yang menyenangkan. Tidak jarang malam kreativitas juga mendatangkan bintang tamu – anggota keluarga salah satu penghuni yang turut menyumbang penampilan. Tiga tahun lalu ada yang akrobat, lalu juga ada yang memainkan instrumen musik, dan berbagai hal seru lainnya.

Astari tahu, ini saat-saat yang akan dia dekap erat di dalam memorinya. Belasan manusia di usia senja yang bertemu dan membentuk keluarga baru, berusaha untuk merayakan kehidupan dengan cara-cara unik mereka. Hidup bukan lagi tentang panjang atau pendek, tinggi atau rendah karena semuanya tahu bahwa semua momen kebersamaan sudah seharusnya dihabiskan dengan penuh sukacita. Bagi Astari – semarak hidup panjangnya yang gegap gempita justru membuatnya kesepian. Dekade kedua, ketiga dan keempatnya berlalu hanya dihiasi oleh ambisi-ambisi karir tumpul yang semu dan menjemukan. Di era itu, Astari menguasai dunia hanya bersenjatakan pemulas bibir andalannya dan ponsel pintar yang merangkum semua pekerjaannya.

Di usia 37, hanya Julius satu-satunya yang bisa menandingi akselerasi hidup Astari dan memberanikan diri untuk meminangnya, di sebuah makan malam random di tengah minggu. Julius meninggal 12 tahun lalu karena Kanker, dan Astari selalu bertanya-tanya kenapa bukan dia duluan yang dipanggil Tuhan. Astari tidak bisa mengerti kenapa Julius ingin menjadi suaminya, di tahun-tahun pernikahannya, Astari tidak pernah ingat sedetikpun Julius memaksakan kehendaknya. Dia hanya di sana untuk memastikan kehidupan mereka baik-baik saja. Di tahun-tahun pertama hidup tanpa Julius di sisinya, Astari hidup setengah hati. Sudah terlalu banyak hal yang mereka bagi berdua, kehilangan Julius membuatnya sadar bahwa kesementaraan adalah satu-satunya hal yang mampu menetap.

Dengan lahap dan bersemangat Astari merampungkan makan siangnya di Kamis itu – dia tidak sabar untuk memulai mengerjakan persembahannya untuk malam pentas kreativitas. Idenya cemerlang – sebuah lukisan kanvas besar menggambarkan semua penghuni Panti Pelangi di depan balkon panti, menghadap lautan. Baginya, ide ini ideal. Astari ingin jadi bagian dari memori semua orang yang hidup di Panti Pelangi. Nantinya lukisan ini bisa dipajang di resepsionis, atau diduplikasi untuk semua orang yang ingin menyimpan versi fisiknya. Judul lukisannya “Keluargaku di depan Samudera”. Astari merasa cukup ketika bisa menyita ruang kecil, di memori orang-orang yang dia sayangi. Dan melalui lukisan ini dia ingin membekukan rasa cintanya terhadap manusia-manusia lanjut usia yang ada di hadapannya setiap hari.

16.45, nada merdu Utha Likumahuwa luas terdengar di seluruh bagian panti, tiga tahun lalu cucu Oma Grace yang bekerja di perusahaan audio dengan sukarela memasangkan speaker mewah yang distribusinya juga canggih. Coba tinggalkan sejenak anganmu, esok kan masih ada, bersama dengan teman-temannya Astari bersenandung potongan nomor lawas bersama beberapa temannya sambil jalan menuju ke balkon. Senafas dengan namanya, sore itu panti terasa seperti pelangi karena semua penghuni sibuk di kanan dan kiri menyambut akhir pekan untuk malam kreativitas.

“Aku bikin puisi tentang keluarga kucingku untuk malam kreativitas,” jelas Oma Tabitha sambil lanjut merajut di kursi depan balkon. Tabitha masuk 5 tahun lalu untuk melarikan diri dari anak-anaknya yang berburu warisan keluarga. Tabitha diwariskan harta yang sungguh banyak oleh almarhum suaminya, namun dia tidak peduli, sedikitpun. Dia berikan semua ke anak-anaknya, lalu kabur ke Panti Pelangi. Tabitha punya sedikit pemasukan dari menjual hasil rajutannya via media sosial. Salah satu volunteer mengajarkannya menggunakan Instagram, dengan sedikit teknik fotografi akan rajutannya terlihat apik di layar ponsel. Di depan balkon, Oma Tabitha sedang seru menceritakan anak-anak kucingnya, ketika perhatian Astari terbelah setengah dengan keramaian di tepi pantai yang dia saksikan.

Seorang  Ibu berteriak panik ketika anaknya tergulung ombak dan tidak bisa berenang. Si Ibu lari terbirit mendekati lautan sambil memanggil-manggil anaknya. Kejadian itu mencuri perhatian semua orang selama sekitar 15 detik, si Ibu langsung menggapai anaknya dan menariknya balik ke pasir. Astari memperhatikan semua gerak-geriknya dengan teliti, dari kejauhan di balkon. Matanya tidak bergeming, mengikuti apa yang terjadi. Kawanan Oma di balkon panik sejenak lalu kembali bercengkerama. Astari masih saja terdiam melihat kejadian itu. Ada komputasi yang terjadi di dalam kepalanya, dan alhasil Astari tidak bisa kembali normal setelah melihat itu. Ada percikan perasaan yang mencoba untuk mendobrak masuk. “As, kenapa kamu?” Tanya Oma Tabitha bingung. Tabitha berusaha merangkulnya ketika akhirnya Astari memejamkan mata dan pingsan, di sore itu.

Ada sesuatu yang terjadi, di dalam kepala Astari.

—-

Tulisan 3: Sendiri

Sosok di balik kaca tebal akhirnya memperlihatkan wajahnya. Itu Timmy. Timothy. Astari sungguh rindu. Tenggelam di tengah-tengah air, sesak napas dan tidak bisa berbuat apa-apa. Astari berdiri di sisi lain kaca, hanya bisa melihat tanpa bantuan. Timmy mengunci matanya dengan kedua mata Astari. Mulutnya bergerak – dia ingin mengatakan sesuatu, mengulang-ulang frasa yang sama. Astari menangis, berusaha menerka-nerka, apa yang Timmy katakan dari seberang kaca.

“Cukup…”

“Sepertinya cukup-”

perlahan suaranya menjadi jelas, bertengger di telinga Astari. Suara Timmy yang tadinya tidak terdengar, kini jelas bisa dia dengarkan. Sepertinya cukup. Kata-kata yang sama malah kini berulang dengan volume keras di kuping Astari. Timothy mengenakan baju yang sama. Celana corduroy favoritnya. Astari berteriak dan menggedor kaca, air mata semakin deras.

Astari terbangun di ruang utama. Tanpa selimut andalannya. Tabitha tertidur di sampingnya, masih mengenakan baju yang sama dari sore kemarin. 4.30 pagi – Astari pingsan dan terus terlelap sejak sore kemarin hingga pagi ini. “Hampir 12 jam,” keluhnya di dalam hati sambil mengutuk diri sendiri. Astari benci merepotkan orang lain. Dia juga yakin bahwa adegan pingsannya sore kemarin mengundang tanya dan perhatian seluruh penghuni panti. Sekelibat dia teringat Timmy, sangat jelas terpapar di mimpinya. Astari cepat-cepat mengenyahkan pikiran itu, karena dia ingin bangkit dari tidur/pingsannya yang nampaknya merepotkan semua orang.

Siang berlalu sangat cepat – karena semua penghuni panti mempersiapkan diri untuk tampil di malam kreativitas, malam ini. Satu hal yang menyangkut di kepala Astari, sejak pagi hingga sore hari. Dia tidak duduk di balkon, kali ini. Astari duduk di meja kamarnya, mengeluarkan secarik kertas dan pena. Lukisannya sudah rampung sejak kemarin.

Saat makan malam selesai, ruang utama sudah penuh dan riuh. Ada dekorasi sederhana, lampu spesial dan panggung kecil. Satu persatu penghuni tampil, tepuk tangan dan tawa memantul-mantul di dinding Panti Pelangi. Sungguh kebersamaan yang menghangatkan, muncul di tengah-tengah kesementaraan. Giliran Astari datang. Dia maju ke atas panggung dengan dua benda di kedua tangannya. Astari mengangkat tangan kirinya, memegang lukisan.

“Lukisan ini hadiah saya untuk Panti Pelangi. Judulnya ‘Keluargaku di depan Samudera’. Saya gambar dengan penuh cinta dan emosi. Namun ada alasan lain kenapa saya akhirnya mau menetap sekian lama di Panti Pelangi. Ini kali pertamanya saya punya keberanian untuk bercerita.”

Astari meletakkan lukisan di lantai dan berpaling ke secarik kertas yang ada di tangan kanannya. Lalu dia membacakan surat itu, di hadapan semua penghuni panti.

Timmy, Timothy. Apa kabar nak?

Ini ibumu, menyampaikan salam. Empat puluh tiga tahun yang lalu kita berpisah. Ayahmu Julius juga meninggalkan Ibu, padahal sudah Ibu suruh pergi jauh-jauh dia sejak lama. Terlalu baik, pria itu buat Ibu.

Timmy, setelah kamu pergi, Ibu tidak bisa berhenti menghukum diri sendiri. Ibu melarikan diri dari kehidupan – teman-teman dan keluarga. Ibu malu, merasa kehilangan satu-satunya hal yang membuat Ibu merasa jadi manusia. Keluarga kita juga tampaknya tidak akan bisa memaafkan Ibu, yang sudah melakukan kesalahan fatal yang dampaknya seumur hidup. Ibumu malu, takut dan marah. Melahirkan, lalu meninggalkanmu.

Kemarahan ini terlalu besar untuk Ibu selesaikan sendiri, Timmy. Ibu pensiun dini meninggalkan karir – karena Ibu pikir karirlah yang menyebabkan kamu bisa hilang dari hidup Ibu. Ibu juga menjauhkan diri dari semua orang, karena Ibu berpikir Ibu tidak akan pernah pantas dicintai – oleh siapapun itu. Ibu merasa kemarahan ini seperti gelas yang tidak akan pernah penuh diisi, ada lubang besar di hati Ibu yang tidak akan pernah bisa ditambal oleh apapun.

Belakangan ini kamu hadir di mimpi Ibu. Nampaknya rindu Ibu, bersambut. Kamu masih pakai celana corduroy itu. Ibu selalu berandai-andai, seperti apa rupamu setelah sudah jadi pria dewasa. Maafkan ibu tidak bisa menolongmu, sore itu. Mungkin kalau Ibu 15 detik lebih cepat saja, mungkin Timmy masih hidup. Di panti, Ibu bisa bersembunyi dari bayang-bayang masa lalu. Jadi lebih berguna untuk orang lain. Ibu seperti ingin mengganjar diri sendiri untuk menebus kesalahan Ibu, kehilanganmu. Ibu bahagia di sini, karena setiap sore bisa duduk menghadap tempat terakhir kita bersama. Beruntung sekali ada rumah peristirahatan manula dibangun berdekatan dengan lokasi kamu meninggalkan Ibu.

Walau kamu pergi ditelan Samudra Hindia, setidaknya Ibu bisa tinggal di dekatmu. Ibu tidak berani cerita ke siapapun di Panti, karena malu. Ibu juga masih memendam amarah, juga rasa sedih yang berkepanjangan.

Timothy, Ibu tidak tahu kenapa kamu muncul di tidur Ibumu belakangan ini. Apa yang kamu ingin nyatakan? Ibu bingung, namun ibu tahu bahwa sudah terlalu lama amarah ini tidak mereda. Setiap sore Ibu duduk menghadap ke Samudra, bermimpi kamu bisa muncul barang sedetik saja. Tentunya tidak pernah terjadi. Kamu malah muncul di mimpi, masih dengan celanamu itu. Namun kamu bilang dengan lantang “Sepertinya cukup.”

Ibu jadi khawatir, apa maksudmu? Petunjuk apa itu? Ibu rindu sekali dengan kamu, anakku. Ibu tidak pernah tahu bahwa kehadiranmu bisa sebesar itu perannya di hidupku. Ibu membacakan surat ini di hadapan keluarga baru ibu – Panti Pelangi. Mereka yang membuatku jadi merasa berharga – memberikan sesuatu untuk sesama. Ibu ingin memperkenalkan kamu ke hadapan keluarga Ibu di sini. Semoga mereka bisa tahu sebesar apa perasaan Ibu untukmu. Ibu juga minta maaf, sudah menyembunyikanmu di hadapan keluarga baru Ibu.

Astari perlahan mendongakkan kepala beralih dari surat mengintip keadaaan ruang utama. Semua orang – termasuk Pak Burhan – menitikkan air mata. Semua orang lalu ke tengah panggung dan memeluk Astari penuh dengan empati. Astari menangis, di saat yang sama seperti ada beban puluhan ton yang terlepas dari dirinya. Malam kreativitas itu jadi momen terpenting Astari selama dia menetap di Panti – mungkin juga di sepanjang hidupnya.

Jam 6 pagi, keesokan hari. Sebagian besar penghuni panti tertidur pulas karena malam kreativitas memakan banyak energi mereka. Pak Burhan sudah bangun sejak jam 4. Dia lalu membunyikan lonceng. Dentang suara yang ditakuti semua orang. Perlahan ruang utama sesak, orang-orang berduyun-duyun mengisi. Pak Burhan berdiri di tengah, di sampingnya berdiri foto Astari, hitam putih. Di usia 87 di bulan Juli, Astari meninggal di dalam tidurnya, tidak lagi dihantui mimpi buruknya.

Nampaknya sudah cukup. Sepertinya cukup.

Hari itu, lukisan Astari “Keluargaku di depan Samudra” dipajang di pintu masuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s