Misteri model bisnis musik di era pandemi

Screenshot 2020-03-21 at 4.46.43 PM

Membahas siasat sandang, pangan dan papan yang berkelanjutan untuk para pekerja musik.

Ditulis untuk BTS Video Raisa: Live in Lapangan Banteng

Sejak video perdana Sounds From the Corner di 2012 bersama Raisa Andriana, semua orang mengerti bahwa wanita ini diberkahi bersuara emas, perangai hangat dan paras cantik. Saya tidak tertarik membahas itu, karena delapan tahun kemudian tiga hal ini tidak berubah. Malahan saya akui semakin impresif. Tapi jika Anda melayangkan sanjungan terhadap video ini, 80% seharusnya ditujukan kepada lebih dari empat puluh orang yang terlibat di dalam proses produksi video Raisa: Live in Lapangan Banteng. Video yang Anda tonton, menyingkap amatan di balik layar proses produksi.

Industri musik di Indonesia tidak bersahabat bagi para pekerjanya. Layaknya industri apapun, industri musik bekerja efektif ketika ia didukung oleh sebuah ekosistem. Masyarakat awam tidak terbiasa untuk melihat suguhan musik sebagai bagian dari industri, di mana berbagai elemen penting yang menjadi pilar penting, agar tetap berlangsung berkelanjutan. Di balik kesuksesan grup musik/solois/penampil pujaan Anda di atas panggung, ada 7-8 peran penyokong yang tugasnya tidak kalah penting – atau bahkan lebih penting dari sang musisi.

Tentunya, audiens luas tidak terbiasa melihat mereka karena sifatnya yang di balik layar. Sejak 2017 bermitra dengan kolektif musik Studiorama kami membuat Archipelago Festival, yang salah satu misi besarnya adalah memberikan sorotan terhadap ekosistem industri musik, agar ada wadah jelas yang mempertemukan para pelaku musik dalam konteks luas – tidak hanya para musisi / artis. Di situ juga ada pertukaran jaringan dan wawasan, dengan harapan tumbuh ketertarikan organik terhadap peran lain di industri selain musisi.

Saya mengerti bahwa seputar topik COVID19 dan sekitarnya, para pelaku musik tidak ada di dalam kategori darurat dan terancam nyawanya (secara langsung), tapi karena SFTC adalah sebuah inisiatif berlandaskan musik, maka saya mau berbicara seputar dampak pandemi ini terhadap para pekerja musik di Indonesia.

Sejak peralihan produk musik dari fisik ke digital, dikarenakan buruknya adopsi model bisnis baru,  penetrasi internet yang lambat dan rendahnya daya beli massal di Indonesia, revenue stream musisi dari penjualan lagu kini jauh dari kata mumpuni. Musisi harus putar otak untuk cari duit. Lagu dan album dijadikan alat pemasaran saja untuk memancing audiens datang ke acara offline – sumber pemasukan terbesar musisi. Di samping itu, ada sumber revenue merchandise, terkadang kemitraan komersial dan yang terakhir, tawaran-tawaran endorsement, influencer dan KOL. Belum selesai di situ, banyak juga korporasi besar yang “merusak” mindset konsumen dengan menyuguhkan sajian musik gratis. Penonton seharusnya dididik untuk membayar untuk datang ke pertunjukkan karena itulah wujud paling nyata bentuk support fans terhadap idolanya.

Di dunia yang ideal, royalti musik sebagai passive income seharusnya jadi jagoan utama musisi untuk bertahan hidup. Sayangnya itu belum banyak terjadi.

Bergantung kepada penampilan Live tentunya bukan strategi yang sustainable – energi fisik, waktu, juga usia jadi tantangan yang riil saat musisi harus berhadapan dengan tuntutan manggung dan yang terpenting – mencari panggung. Tidak heran jika banyak musisi sidestream Indonesia punya kehidupan ganda – pekerja kantoran juga pelaku musik. Dikarenakan kondisi tak terelakkan ini, saya salut jika ada musisi manapun yang seratus persen terjun di musik membangun karir, membesarkan keluarga dan menghidupi dirinya sendiri.

Imbas dari pandemi COVID19, industri pertunjukkan dan musik tentunya jadi salah satu yang terkena dampaknya. Acara musik berbagai level – festival, klub dan komunitas semuanya dibatalkan – kalau tidak ditunda. Tidak hanya musisi yang di atas panggung, pekerja musik yang menggantungkan hidup mereka dalam acara-acara ini kini bisa dipastikan tidak ada kejelasan pemasukan, setidaknya 1-2 bulan ke depan. Bagi para pekerja musik, acara-acara musik tahunan skala besar seperti WeTheFest, Synchronize dan Soundrenaline adalah lahan penting mereka untuk bertahan hidup. Situasi pandemi yang tergolong Force Majeure ini jadi tanda jelas bahwa harus ada plan A, B, C, D dan seterusnya terhadap keadaan ini.

Para kru dan support system musisi banyak hidup dari band ke band panggung ke panggung, tanpa kontrak jelas tanpa kepastian profesional yang tertulis. Di dalam hirarki pekerja musik, bagi saya mereka jadi pihak yang paling terkena imbasnya. 

Solusi jangka pendek untuk mengganti slot musisi yang kehilangan panggung tentunya sigap dibentuk. Salah satu strategi yang cukup realistis adalah menyajikan sajian live streaming. Lanjutan krusial dari upaya live streaming adalah memberlakukan sistem pay per view, untuk menggantikan bentuk tiket fisik di acara musik offline. Jika sistem ini secara 360 derajat bisa dilaksanakan, saya rasa model bisnis ini sudah bisa diberlakukan dengan seksama. Tentunya audiens harus sadar bahwa penggunaan data ponsel atau internet adalah nilai tukar dan “pengorbanan” dari sisi mereka, jadi mari berharap mereka juga mau berkorban untuk keberlangsungan pekerja musik di Indonesia.

Prediksi saya, minimal sepanjang kuartal 1 dan 2 tahun 2020 semua bisnis musik di Indonesia akan berantakan dari segi cash flow dan acara. Tulisan ini bukan ditulis untuk menawarkan solusi pasti, namun untuk mengingatkan kepada para audiens dan penggemar musik di Indonesia: Para pekerja musik akan mengharapkan banyak dukungan, toleransi dan kemauan kalian untuk ikut berpartisipasi jika para pekerja musik berupaya untuk menghadirkan alternatif dan opsi untuk menemukan celah mereka untuk bertahan hidup. – Teguh Wicaksono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s