Barakatak dan Definisi Kecantikan

maxresdefault.jpg

Sesuatu yang mungkin dianggap menjijikkan sepuluh tahun lalu, kini jadi kitsch yang baru. Kenapa?

(Ditulis untuk Sounds From the Corner)

Beberapa hari sebelum Aam – personil dan hypeman kuartet Barakatak bertengger di rigging panggung bagian atas seperti yang kamu lihat di menit ke 24 video ini, sebuah pesan singkat masuk ke gawai saya. 

“Guh, penyakit Aam yang lama kambuh lagi. Dia sudah sebulan tidak kembali ke Bandung. Bagaimana kalau Barakatak tampil minus dia?” Ujar Jeko sang manager. Karena bingung, saya meminta penjelasan lebih jauh soal “penyakit” ini. “Penyakit lama di kala Barakatak tidak aktif, dia balik ke praktek perdukunan dan kejar mengejar pusaka,” jelas Jeko. Sambil bingung, saya berusaha mencerna dan mengiyakan saja sambil berpikir membangun plan B jikalau Barakatak tidak bisa menjadi headliner pamungkas Archipelago Festival 2019.

Setelah kami merelakan dengan legowo bahwa Aam tidak akan tampil, tepat di tengah malam 00.00 hari pelaksanaan Archipelago, pesan Jeko masuk: “Teguh, Aam sudah kembali. Si gila.” Saya tersenyum lega. Penampilan rusuh ini jadi salah satu momen terbaik di hidup saya sepanjang 2019. Lihat saja semua orang merangsek ke atas panggung, entah apa yang sudah mereka konsumsi sebelumnya.

Saat beranjak dewasa, setiap kali diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan pusat Jakarta oleh orang tua saya saya kerap bingung. Sementara di layar televisi bertebaran iklan pemutih kulit yang menjejerkan wajah cantik dan janji kapitalisme untuk terlihat kebarat-baratan, setiap kali ada orang pria barat yang saya lihat di mall menggandeng seorang wanita Indonesia, 8 dari 10 sang wanita pasti memiliki kulit kecoklatan dan wajah cantik yang Indonesiana.

Lalu saya bingung, janji apa yang sedang dijual produk-produk kecantikan pemutih ini kalau semua pria barat yang saya lihat jatuh cinta dengan wanita berkulit sawo matang? Dan, kenapa saat semua wanita Indonesia ingin jadi putih, tapi semua wanita di Amerika dan Eropa tergila-gila ingin punya kulit yang tanned? Saat di SMP sudah mulai belajar menulis, saya mengerti bahwa ada konsep eksotisme – menurut KBBI kata eksotis memiliki beberapa arti, salah satunya: khas karena belum banyak dikenal umum. Arti lainnya dari eksotis: diperkenalkan di luar negeri. Dan terakhir: aneh atau ganjil.

Saat saya mencocokkan pemahaman eksotisme dan kebingungan saya seputar produk pemutih, saya sadar bahwa mungkin narasi kecantikan komersil banyak dibentuk atas dasar kapitalisme, untuk membuat orang mengkonsumsi produk yang memberikan value eksotisme – berbeda dari identitas asli mereka. Yang putih ingin jadi tan, yang cantik sawo matang ingin jadi putih. Ternyata definisi “cantik” itu tidak jauh dari definisi kata “berbeda”.

Menganut pemikiran untuk selalu ada di arus pinggir, pergerakan musik sidestream di Indonesia kerap dipandang mengejar value eksotisme – selalu ingin menghadirkan sesuatu yang belum banyak dikenal khalayak, atau bahkan ganjil jika dipandang dari segi umum. Simpelnya – melawan apapun yang ada di arus utama. Apa itu arus utama? Apapun yang ada di layar kaca dan mainstream media. Sepuluh tahun lalu, saat di layar kaca bertebaran musik Pop Melayu dan penampilan lipsync di variety show seperti Dahsyat, di “bawah tanah” lahir suguhan-suguhan musik yang sangat bervariasi, dengan kualitas tinggi.

Tujuan penjelasan empat paragraf di atas adalah untuk memberikan validasi kenapa Barakatak menjadi penampil pamungkas di Archipelago Festival 2019 Oktober kemarin. Setelah kultur digital menyama ratakan akses dan mempercepat proses penemuan musik baru di kalangan konsumen, para pencetus dan penggerak inisiatif musik memiliki banyak niatan untuk membangkitkan lagi unsur kelokalan. Kelokalan yang saya maksud, bukan gamelan, batik atau wayang. Ini seperti membangkitkan banyak arsip yang sudah berdebu diterpa MTV dan Clear Top 10.

Para pegiat terus menerus berusaha menyuguhi pendengar musik berbagai suara dan bebunyian yang kental ke-Indonesiaannya, atau bahkan melampaui poin ingin terdengar cool. Hal-hal kitsch dulu hanya disimpan baik-baik di dalam skena, hingga kini semua lagu ada versi Koplonya. Kalau Gen X dulu mabuk dengan alkohol mahal dan mobil sports, kenapa sekarang ada gerobak gorengan bertengger resmi di depan klab malam Senopati, dan ada ribuan gelas Anggur Merah terjual di sebuah festival musik?

Beberapa yang membentuk unsur kelokalan yang cool adalah mereka yang berhasil membawanya ke lantai dansa. Prontaxan misalnya – mengemas ulang asimilasi budaya musik yang dulu dikenal “kampungan” dan menyulingnya dengan filter indie, alhasil jadi sah dikonsumsi Gen Z dan bertebaran di Instastories. Diskoria dengan seri acara Suara Diskonya yang groundbreaking, membuat lagu Juwita dari Chrisye jadi anthem lantai dansa Jakarta Selatan. Swaragembira dengan koneksi eratnya dengan Guruh Sukarno Putra – menggelar pagelaran busana fusion di area Plaza Senayan sambil mendoktrin anak muda bahwa sarung adalah the next Supreme. Sisanya, juga banyak event karaoke menampilkan lagu Indonesia multi periode, pelan-pelan mengikis lapisan kelas, gengsi dan imej dari lagu-lagu lokal indonesia. Semua rata di hadapan algoritma.

Peleburan kultur dan asimilasi budaya di musik, adalah produk jelas dari pergeseran perilaku konsumen terhadap digitalisme. Lucunya, musik seperti Koplo sejatinya jugalah sebuah bentuk asimilasi budaya barat dan Indonesia, namun karena proses distribusinya dan segmen kelasnya yang “tidak keren” di 90an, akhirnya dianggap aneh. Barakatak dibentuk oleh Doel Sumbang, yang ingin mengawinkan musik Sunda dengan musik dansa yang relevan di zamannya.

Berkat internet, semua lapisan kelas dan imej terhadap jenis musik apapun kini bisa ditantang. Canggihnya Barakatak sudah menampilkan musik asimilasi budaya yang kental, jauh sebelum kalian (dan saya) singalong lagu-lagu Pop Melayu karaoke di Synchronize Festival 2019 kemarin.

Sesuatu yang mungkin dianggap menjijikkan 10 tahun lalu, kini jadi kitsch yang baru. Sounds From the Corner menampilkan – Barakatak! – Teguh Wicaksono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s