Komentar Sosial Terbaik di Tata Surya

ab67616d0000b273f54f59079948b523fe1b9d09

“Dulu masih culun, sekarang main auto-tune.” Melalui albumnya, Mamang Kesbor mendokumentasikan kultur populer Indonesia dengan cerdas, sambil mengolok-olok berbagai hal, termasuk dirinya sendiri.

Seserius apa Anda bercanda di jagat internet? Kemungkinan besar tidak akan seserius Mamang Kesbor. Geliatnya hari ini mewakili realita identitas di ranah digital – Anda tidak bisa memberikan satu definisi  saja terhadapnya. Apakah dia seorang produser musik? Kreator konten? Seorang troll? Weird Al-Yankovic versi lokal? Produsen dan distributor meme? Semuanya benar

Menavigasi kultur populer internet bukanlah sesuatu yang mudah – namun mendaur ulang endapan informasi dan menggubahnya menjadi sebuah karya musik yang utuh dengan kandungan komedi, jelas jauh lebih sulit. “Album Terbaik di Tata Surya” adalah hasil konkrit pengamatan Mamang Kesbor terhadap lusinan fenomena gaya hidup terkini di Indonesia. Mendengarkan album ini sejak awal hingga akhir, terlihat jelas bahwa Mamang Kesbor sangatlah cermat mengamati lapisan-lapisan kultur modern. Instingnya dikawal juga dengan penulisan lirik yang jujur, komedik dan apa adanya.

Saya besar di tahun 90an mendengarkan kaset-kaset Padhyangan Project, grup musik parodi dari Bandung yang mengawali karir mereka dengan menukar lirik lagu pop terkenal dengan lirik komedi yang juga merupakan social commentary. Walaupun kemasan musikal grup ini menggunakan musik orang lain, namun lirik-lirik ringan P-Project membantu saya mendekonstruksi fenomena sosial, dengan cara yang realistis dan sangat menghibur. Part-part yang sebenarnya sebuah kritik atau upaya untuk menyinggung, dijadikan jadi bagian singalong yang menyenangkan sehingga delivery-nya menjadi sangat mudah dicerna dan “ditolerir”.

Hal ini menjadi karya musikal yang mumpuni ketika bidikan topik-topik modern ini lalu dipersenjatai dengan skill produksi musik yang well produced. Saat kebanyakan orang menjadikan bercandaan media sosial sebagai kudapan ringan sehari-hari, Mamang Kesbor menjadikannya sumber inspirasi. Album ini menjadi spesial di telinga saya karena sektor eksekusi musik dan lirik ada di kualitas yang sama tingginya, bahkan melebur jadi satu kemasan yang compact. Musisi bisa menjadi lucu tanpa harus murahan, menggarap sesuatu yang serius dengan kemasan yang relatable, realistis dan tidak terkesan pretensius.

Kenapa sang komedian legendaris Tukul Arwana tidak pernah dianggap kurang ajar dan kelewatan saat meluncurkan berbagai komentar sinis ke tamu-tamunya? Sederhana: karena Tukul juga dengan gembira menghina dirinya sendiri, bahkan mengundang orang untuk memberikan ejekan kepada dirinya sendiri. Pendekatan ini membuat audiens merasa Tukul ada di posisi yang sama dengan audiens dan “rakyat”, karena dia tidak pernah memposisikan dirinya sendiri di atas penontonnya. Pendekatan lirik Mamang Kesbor juga bagian besar kenapa album ini tidak terdengar preachy – terkandung unsur self mockery di banyak liriknya – bahkan kemungkinan besar terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Mamang Kesbor menempatkan dirinya di level yang sama dengan pendengarnya, dan itu strategi yang sangat penting dalam membangun presence di hadapan pendengar musik modern.

Baik saat dia bercerita saat kebelet buang air besar, menangkap fenomena Anggur Merah yang naik kelas dan dijadikan bagian gaya hidup modern  hingga bercerita tentang anak Emo yang berubah jadi anak Hip-hop, Mamang Kesbor bersuara dari tempat yang sama dengan pendengarnya, tidak lebih tinggi atau rendah.

Sebelum mengupas beberapa sektor lirik yang menurut saya jadi primadona di album ini, saya ingin membahas mengenai bagaimana Mamang Kesbor juga menyisipkan elemen humor di dalam tubuh aransemen musik itu sendiri, sehingga menjadi kesatuan yang sangat menarik. Di lagu Soto Ayam Bu Karti, terdengar jelas Mamang Kesbor berusaha untuk menggapai estetika aransemen dan pendekatan trap dan mumble rap dari Playboy Karti yang kental.

Kemampuan Mardial mengartikulasikan referensi musik ini dengan baik sangat penting, menunjukkan entry point lain  dari social commentary terhadap kultur populer yang coba ia dokumentasikan tidak hanya dari lirik, namun juga dari aransemen musik. Mamang Kesbor berulang kali “bercanda” dengan sengaja menggunakan triplets,  tutur mumble rap yang tidak jelas, berusaha memberikan pendekatan humor terhadap unsur-unsur hip-hop modern yang menyerbu kita 3-4 tahun belakangan.

Contoh lain: Di lagu Emo Night, dia mengawali track dengan petikan gitar, lalu mengganjar part tersebut dengan beat hip-hop modern, berusaha untuk memberikan pendekatan musikal relevan dengan tema lagu tentang berubahnya identitas seseorang karena terbawa tren jaman. “Dulu main silet, sekarang dengerin Offset,” ujar Mamang Kesbor entah menyindir orang lain atau memberikan self-criticism terhadap perjalanan dirinya sendiri.

Pendekatan yang sama antara lirik dan musik di “Walangkeke”, ketika dia melakukan perbincangan antara rapper dan produser musik hanya karena kesalahpahaman di segmen lirik.

Positioning dan sosok anonim Mamang Kesbor yang bisa dibilang tidak menggantungkan dirinya ke komunitas, tongkrongan atau bahkan “skena” tertentu juga menunjukkan  entitas musisi modern yang bisa tetap menjaring audiens dan peminat tanpa harus bergerak menggunakan kendaraan identitas tertentu.

Lagu-lagu lain seperti Tig-tog (membicarakan tentang pergeseran persepsi publik terhadap tren Tiktok di Indonesia) dan Krinz (Pengamatan tentang kultur Youtuber, monetisasi konten, KOL Digital dan fandom di sekitarnya) membuat saya semakin yakin, Mamang Kesbor tak ubahnya storyteller budaya populer Indonesia yang relevan di zamannya.

Kalau Anda menganggap album ini hanyalah album “lucu-lucuan” atau album yang akan selewat saja, tunggu sampai sepuluh tahun dari sekarang orang-orang mendatangi album ini lagi dan sadar bahwa Mamang Kesbor telah berhasil membuat album komentar sosial terbaik di tata surya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s